Minggu, 04 Maret 2018

SEJARAH SOSIAL PENDIDIKAN PADA MASA AL MA’MUN


SEJARAH SOSIAL PENDIDIKAN
PADA MASA AL MA’MUN

Pendahuluan
Nama asli al-Ma’mun adalah Abdul Abbas Abdullah al-Ma’mun 167-218 H / 783-833 M ) ia seorang khalifah Abbasiyah,putra harun al-Ryasid.berkuasa lbih kurang 15 tahun, ia memperakarsai kegiatan keilmuan-keilmuan dan penerjemahan buku karya-karya ilmuwan yunani ke dalam bahasa arab,ia mendirikan sebuah akademi di Baghdad yang bernama Bayt-al-hikmah,(gedung kebijaksanaan) yang di dalamnya terdapat observatorium yang di perintah untuk pengembangan ilmu pengetahuan, naskah-naskah yunani di buru dari konstantinopel untuk memperkaya perpustakaan akademi ini untuk di terjemahkan kedalam bahasa arab,sebuah akademi kedokteran didirikan pada masa pemerintahanya[1]
Al-Ma’mun di kenal sebagai tokoh pendidik multicultural karena ia sangat toleran terhadap masyarakat yang berbeda agama yaitu Kristen,serta ia lebih familiar terhadap peradaban yang berbeda-beda seperti Rusia,Pagan,dan lain-lain,ia dikenal juga karena inisiatifnya dalam memajukan intelektual islam yang membuatnya satu di antara khalifah sekaligus intelektual besar[2]
Daulat Abbasiyah mencapai puncaknya dizaman khalifah Harun Al Rasyid (786-809 M ) dan putranya Al-Ma’mun (813-833 M )[3] kekayaan yang banyak dimanfaatkan Harun Al Rasyid untuk keperluan Sosial ,rumah sakit,lembaga pendidikan,dokter dan farmasi didirikan,pada masanya sudah terdapat paling tidak 800 orang dokter[4],disamping itu pemandian-pemandian umum juga di bangun,tingkat kemakmuran yang paling tinggi terwujud pada zaman khalifah ini,kesejahteraan Sosial,kesehatan,pendidikan,ilmu pengetahuan dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasanya,pada masa inilah negara islam menempatkan dirinya sebagai  Negara terkuat dan tak tertandingi,Al-Ma’mun pengganti Al Rasyid di kenal sebagai khalifah yang cinta kepada ilmu,pada masa pemerintahanya,penerjemahan buku-buku asing digalakan,untuk menerjemahkan buku-buku yunani,ia menggaji penerjemah-penerjemah dari  golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli,ia juga banyak mendirikan sekolah,(salah satunya adalah bait al Hikmah yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dan perpustakaan besar) pada masa al Ma’mun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan[5]
Berdasarkan hal tersebut maka perlu diketahui tentang siapa sebenarnya Al-Ma’mun, apa peran yang diberikan Al-Ma’mun ketika menjabat khalifah, apa saja keberhasilan yang dicapai ketika Al-Ma’mun memerintah, bagaimana keadaan penduduk ketika al-Ma’mun memerintah dan bagaimana perangai dari al-Ma’mun.

Pembahasan.
1.      Sejarah Sosial Pendidikan Islam Pada Masa Al-Ma’mun
a.      Kondisi Sosial Politik
Adanya keterbukaan rezim Abbasiyah terjadi pada zaman Al Ma’mun dalam hal pemerintahan,banyak juru tulis yang tersebar dalam birokrasi Abbasiyah adalah orang yang berasal dari khurasan,kelompok Kristen Nestorian  berperan sangat kuat,kelompok minoritas tertentu seperti yahudi ikut terlibat dalam kegiatan perpajakan dan perbankan,keluarga keluarga syiah juga ikut berpangaruh,kelompok arab juga tidak kehilangan kedudukanya,Militer, peradilan dan kehidupan hukum di Baghdad dan kota lainya berada di tangan orang arab[6] 
Khalifah ketujuh dari bani Abbasiyah adalah Al-Makmun,ia memerintah dari tahun 198-218 H(818-833.M) system pemerintahan menganut teokrasi bentuk Negara menganut sisten kekhalifahan.[7]
Walau demikian,dalam periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas,baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar.[8]
Salah satu tantangan yang datang dari dalam adalah Al-Amin yang tidak menghendaki Al-ma’mun  sebagai khaifah pengganti maka terjadilah peperangan, ahir dari peperangan dua saudara ini yang dimenangkan oleh al-ma’mun secara otomatis al-ma’mun menyandang gelar khlaifah,tetapi warisan yang diterimanya amatlah berat,penuh dengan berbagai ragam kesulitan dan peristiwa,keterlibatanya dalam peperangan menentang saudaranya merupakan suatu peluang yang terbuka bagi golongan-golongan jahat dan anti kerajaan untuk bergerak,kemenanganya dengan menggunakan senjata orang-orang parsi menyebabkan kemarahan orang-orang arab,kepindahanya dari khurasan ke Baghdad telah menimbulkan kemarahan orang-orang parsi,demikianlah begitu hebatnya berbagai gerakan dihadapi al-ma’mun,hingga dia perlu kerja keras disepanjang pemerintahanya untuk mengatasi semua itu,adapun peristiwa-peristiwa yang merongrong dizaman al-ma’mun adalah,1) pemberontakan abus-saraya,2) pemberontakan Nasr bin syabats,3) pemberontakan Baghdad,4)pemberontakan zatti,5) pemberontakan orang-orang mesir,6) pemberontakan babuk al-kharrami.[9]

b.      Kondisi Sosial Masyarakat
Kondisi Sosial masyarakat pada masa Al-Ma’mun sangat komplek,kompleksitas Sosial dari berbagai unsur kehidupan yang berbeda-beda bersatu dalam agama dan Negara,mereka berasal dari berbagai kawasan seperti afrika selatan,mesir,syam, jazirah arab,irak,Persia sind dan turki[10]
secara positif,beragamnya kehidupan Sosial dapat memberikan ruang yang luas untuk mengenal watak dari tiap-tiap bangsa,karena beberapa hal,setiap bangsa memperlihatkan beberapa kemajuan yang telah dicapai oleh bangsa tersebut,hal ini yang mendorong kholifah untuk melakukan pengenalan dan penyelidikan lebih dalam mengenai kebudayaan dan peradaban bangsa-bangsa tersebut[11]
Al-Ma’mun selain memberikan perhatian yang besar terhadap ilmu pengetahuan,juga telah mewariskan budaya pembauran antara keturunan Arab dan non arab,kemudian pembauran tersebut memberikan kontribusi tersendiri untuk membangun kemajuan dibidang Ilmu pengetahuan yang menjadi harapan khalifah Al;Ma’mun[12]
Pada masa Abbasiyah (terutama khalifah awal,Al-manshur,al-rasyid,al-ma’mun dan beberapa khlifah setelah mereka) disadari betul akan pentingya ilmu pengetahuan untuk sebuah peradaban islam,bahwa sebuah kekuasaan tidak akan kokoh tanpa didukung oleh ilum pengetahuan[13]

c.       Kondisi Ekonomi
Pada masa khalifah al-ma’mun kondisi perekonimian sangat stabil,selain pajak sumber pendapatan Negara yang lain adalah zakat yang telah diwajibkan atas setiap orang muslim,zakat dibebankan atas tanah produktif,hewan ternak,emas dan perak,barang dagangan dan barang lainya yang berkembang[14]
Baghdad merupakan pusat kegiatan,baghdad tumbuh menjadi kota besar bagi perdagangan internasional,dan sangat produktif dengan sejumlah industry tekstil,sutra,kertas dan berbagai hasil industry lainya, Baghdad bercorak kosmolitan, lantaran keragaman penduduknya,yahudi,Kristen dan muslim juga kelompok pagan, bangsa Persia, Iraq, Arab, Syria dan bengsa-bangsa asia Tengah menjadi populasi kota bahgdad.[15]
Penghasilan dari sector pajak diatur sedemikian rupa,seperti pemerintahan daerah,diorgnanisir untuk kepentingan pajak,pajak dari seluruh daerah haruslah dapat diperkirakan sebelumnya,sebagian untuk kepentingan masing-masing daerah,dan untuk kebutuhan penting yang disertai dengan pemberitahuan pertanggungjawaban dari setiap sub pembagian,setiap sub unit menerima tanggungan pajak dan membaginya diantara unit-unit yang lebih kecil,pada tahap selanjutnya pajak dikumpulkan,biaya daerah dikurangi,dan terjadi pelonjakan keatas hingga surplus pajak pajak benar-benar membuat Baghdad menjadi kaya raya.[16]
Menurut Ibnu khaldun,pada masa Al Ma’-mun menerima pajak dalam bentuk tunai yang berupa pajak tanah tahunan yang dipungut dari sawad(Irak bagian bawah,Babilonia kuno)mencapai 27.800.000 dirham,adri khurasan sebasar 28.000.000.dari mesir 23.040.000.dari suriah-palestina terkumpul sebesar 14.724.000  dan dari provinsi lain sebanyak 331.929.008 dirham.[17]
Menurut catatan Qudamah tentang asset kekayaan  yang terkumpul dari pemasukan pajak sawad adalah sebesar 130.200.000 dirham,dari khurasan sebesar 37.000.000;dari mesir termasuk iskandariyah sebesar 37.500.000;dari suriah,palestinah,termasuk Hims sebesar 15.860.000;dan dari seluruh wilayah kerajaan jumlah pajak sebesar 388.291.350;[18]
Tanaman asli irak terdiri atas gandum,padi,kurma,wijen,kapas dan rame,daerah yang sangat subur berada ditepian sungai sampai keselatan,sawad,yang menumbuhkan berbagai jenis buah dan sayuran,yang tumbuh didaerah panas maupun dingin,kacang jeruk,terung,tebu dan beragam bunga seperti bunga  mawar dan violet juga tumbuh subur.[19]
Khurasan bersaing dengan irak dan mesir untuk menjadi negeri terkaya,gambaran tentang pemasukan yang telah dibahas dimuka,memperlihatkan bahwa daerah itu menghasilkan salah satu pendapatan pajak terbesar kerajaan,secara politik ia didiami oleh orang transoxiana dan sijistan,setidaknya untuk beberapa lama,sehingga disana tersedia sumber daya manusia yang besar,karena itu tidak mengherankan jika daerah itu dikenal pada masa al-ma’mun sebagai “kerajaan yang utuh.”[20]

d.      Sistem Organisasi Militer.
Kekhalifahan arab tidak pernah memiliki pasukan regular dalam jumlah besar ,terorganisir dengan baik,berdisiplin tinggi,serta mendapat pelatihan dan pengajaran secara regular,pasukan pengawal khalifah(haras)  mungkin merupakan satu-satunya pasukan tetap yang masing-masing mengepalai sekelompok pasukan, selain mereka ada juga pasukan barayan dan relawan serta sejumlah pasukan dari berbagai suku dan distrik,pasukan tetap(jund),yang bertugas aktif disebut murtaziqah(pasukan yang dibayar secara berkala oleh pemerintah),unit pasukan lainya disebut mutathawwiah (sukarelawan) yang hanya menerima gaji ketika bertugas saja,kelompok sukarelawan ini direkrut dari orang-orang badui,para petani dan orang kota.[21]
Pasukan pengawal istana memperoleh gaji yang  lebih tinggi,berseragam dan bersenjata lengkap,pada masa awal-awal khalifah dinasti Abbasiyah,rata-rata gaji pasukan infantry,disamping gaji dan santunan rutin adalah 960 dirham pertahun,pasukan kavaleri menerima dua kali lipat dari itu,nah pada masa Al-Ma’mun ketika kerajaan mencapai puncak kejayaanya,pasukan irak diriwayatkan berjumlah 125 ribu,yang pasukan infantrinya hanya menerima 240 dirham pertahun(ketika al-ma’mun berperang melawan saudaranya sendiri ia harus membayar pasukanya sebesar 960 dirham jumlah yang juga dibayarkan saudaranya)[22],dan pasukan kavaleri menerima dua kali lipat dari itu,sedang al Mansur membayar arsitek kota Baghdad kira-kira satu dirham perhari dan pekerja biasa sekitar sepertiganya, sehingga bisa dikatakan bayaran tentara relative baik.



e.       Perangai dan Tingkah Laku Al-Ma’mun
Al-ma’mun merupakan salah satu tokoh khalifah abbasiyah yang paling terkemuka,kebanyakan ahli-ahli sejarah berpendapat,tanpa ketokohan dan kemampuan al-ma’mun,niscaya peristiwa-peristiwa yang terjadi dizamanya itu pasti dapat melumpuhkan kerajaan islam dan menuju kehancuran total dan keruntuhan.[23]
Pemaaf adalah salah satu sifat yang dimiliki al-ma’mun,beliau memaafkan al-Fadhl bin ar-rabi’ yang telah menghasut komplotan penjahat untuk menentang beliau, Ibrahim bin al-mahdi juga dimaafkan ,al-husain bin adh-dhahhak yang mengatakan (sesudah kematian al-amin saudara al-ma’mun)bahwa al-ma’mun tidak akan merasa gembira memegang jabatan khalifah,karena beliau senantiasa diburu dan disingkirkan didunia ini.[24]
Al-ma’mun kurang berminat terhadap hiburan dan bermain-main,selama tinggal dibaghdad tidak mau mendengar sembarang nyayian,kalaupun mendengarkan dari balik tabir,sebab utama beliau meniggalkan hiburan dan majlis-majlis minuman ialah  karena terpusatnya pikiranya pada ilmu pengetahuan dan kecintaanya pada buku-buku,serta usaha mengembalikan kembali keutuhan kerajaan yang hamper akan tumbang dan runtuh.[25]
Tetapi dalam buku lain dikatakan bahwa,ada seorang saksi mata melaporkan bahwa pada sebuah pesta minggu ketika ia memenuhi undangan al-ma’mun,ia menyaksikan 20 orang gadis muda yunani,semuanya memakai hiasan,sedang menari,mengenakan kalung salib emas dan melambaikan tangkai pohon zaitun dan daun kurma,uang sebesar 3.000 dinar untuk para penari itu menjadikan atraksi tersebut memikat hingga akhir.[26]
Diantara peristiwa-peristiwa penting yang ada hubunganya dengan al-Hasan bin Sahl ialah perkawinan khalifah al-ma’mun dengan Buran,anak perempuan al-Hasan bin Sahl,mengenai peristiwa ini Ibnu Tabatiba menceritakan bahwa al-hasan telah mengeluarkan belanja yang besar serta menaburkan mutiara yang tiada terkira banyaknya karena perkawinan itu,al-Hasan telah membagi-bagikan buah-buah tembikar,yang diantara didalamnya diletakan sekeping kertas kecil bertulis dengan nama salah satu perkebunanya,siapa yang mendapatkan tembikar yang bertuliskan tersebut,maka dia diberikan kebun yang telah ditetapkan,undangan yang dibuat terlalu besar sehingga al-ma’mun sendiri menganggapnya sebagai pemborosan,untuk menyambut khalifah al-ma’mun,al-Hasan telah membentang hamparan tenunan emas bertahtakan seribu butir mutiara.[27]


2.      Pendidikan Masa Al-Ma’mun.
a.      Konsep Dasar Multikultural di institusi lain selain Bayt-Al-Himah
Konsep dasar pendidikan multicultural selain di bayt al-hikmah lebih bersifat internal dan khusus yang lebih menekankan pada aspek keragaman dan kesederajatan peserta didik dalam proses pendidikan,oleh karena itu,subjek-subjek multi cultural yang dapat dilihat pada institusi Islam seperti; maktab/ kuttab, masjid, ribath, halaqah dan majlis mengenai keadilan,kemiskinan dan latar belakang kelompok-kelompok menoritas dalam bidang Sosial budaya,ekonomi dan pendidikan yang bertujuan untuk mencapai pemberdayaan kelompok-kelompok minoritas tersebut.[28]
Sebelum zaman al-ma’mun para guru yang mengajar di institusi pendidikan islam sudah sangat kental memperlakukan murid dengan adil sebagaimana telah dilakukan oleh pakar pendidikan islam Badruddin bin jamaah(1985:129)artinya suasana zaman sangat mendukung untuk munculnya konsep dasar multicultural dalam pendidikan islam.[29]
 Gambaran adanya konsep dasar multicultural di institusi selain bayt-al Hikmah,[30]
1)      nilai-nilai kebebasan tergambar dalam proses belajar mengajar di institusi,pendidikan islam masjid,murid mempunyai kebebasan memilih materi pelajaran dan gurunya.bebas memilih sebuah proses pembelajaran bukan berdasarkan lembaganya,tetapi berdasarkan guru/Ulama,oleh karena itu mereka tidak harus dimasjid,boleh di toko buku,perpustakaan,rumah Ulama dan lain lain.
2)      Nilai-nilai keadilan,kemiskinan dan keterbelakangan kelompok minoritas tampak pada rekrutmen murid,semua diberikan kesempatan yang sama,digaji,diberikan alat-alat tulis belajar,(biaya tersebut diambil dari lembaga wakaf)
3)      Adanya hubungan yang harmonis antara guru dan murid dalam proses belajar dan mengajar.

b.      Pengaruh Pendidikan Berbasis Multicultural Zaman Al-Ma’mun
Kebudayaan  bangsa, kondisi Sosial politik,ekonomi dan pendidikan yang berbasis multicultural pada zaman al-ma’mun membawa pengaruh yang luar biasa terhadap kemajuan peradaban bangsa sebagaimana dipaparkan dibawah ini.[31]
1)      terjalinya assimilasi antara bangsa arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
2)      Gerakan terjemah yang dikelola dalam suasana keberagaman,kesederajatan,perbedaan-perbedaan kebudayaan toleransi terhadap semua kelompok dan agama khususnya agama Kristen membawa pengaruh pada kemajuan ilmu pengetahuan dan ilmu agama.
3)      Kebebasan memilih materi dan guru bagi murid dalam proses belajar mengajar dan hubungan yang harmonis antara guru dan murid,nilai-nlai toleransi antar keduanya mempercepat berkembangnya ilmu  pengetahuan dan lahirnya imam-imam madzhab seperti madzhab ketiga yaitu Muhammad bin idris asy-syafi’i(767-820) Imam madzhab keempat yaitu Ahmad ibnu hambal(780-855)

c.       Tokoh-tokoh pendidik multicultural zaman al-ma’mun.[32]

1)      Khalifah al-ma’mun (167-218.H/813-833 M) adalah tokoh yang memiliki Visi dan Misi multicultural dalam mengelola pendidikan  islam,dimana  kepribadian seperti ini sangat diperlukan dalam melaksanakan pendidikan multicultural sebagai pemimpin yang patut diteladani.
2)      Muhammad ibn Musa al-hawarizmi(780-850 M),ahli dibidang aljabar dan astronomi,direktur Bayt al hikmah/pusat studi islam,riset astronomi dan matematika,seorang nasionalis dan ahli pahlevi,sebagai tokoh pendidik multicultural karena ikut menciptakan suasana bebas,terbuka,toleran,dan sederajat dalam mengelola bayt al-hikmah dan upaya menerjemahkan buku-buku warisan hellenisme dari yunani kedalam bahasa arab.
3)      Al-Kindi(809-866 M) beliau adalah filsuf muslim pertama,ia amat masyhur namanya sebagai ilmuan,Al-Kindi dikelompokan sebagai pendidik multicultural karena ia dikenal sebagai tokoh humanis dan pertama kali mengajak kaum muslimin untuk hidup saling memahami dan menyelaraskan pemikiran-pemikiran yang berbeda-beda.

d.      Penghasilan Ilmuwan.
Meski kebanyakan ilmuwan yang mengajar di lembaga-lembaga yang didukung oleh wakaf tidak menjadi hartawan,tetapi mereka memperoleh pengasilan yang memadai untuk memusatkan perhatianya pada kegiatan-kegiatan mengajar dan akademis saja,dilemma tentang boleh tidaknya seorang guru menerima bayaran dari muridnya terus bertahan sepanjang sejarah periode klasik,namun lepas dari dilemma,mereka dapat menggantungkan diri secara financial pada lembaga wakaf atau patronase untuk memenuhi kebutuhanya,[33]
Dana yang diperoleh oleh masjid-akademi berbeda-beda sesuai dengan sumber yang tersedia berupa sumbangan dan pengasilan dari (harta) wakaf. Catatan sejarah menyatakan bahwa secara umum para guru termasuk kelompok berpenghasilan menengah,[34]jelasnya para guru terkenal menerima imbalan lebih dari usahanya beberapa bahkan menjadi benar-benar kaya.namun sangat sedikit bukti bahwa orang memutuskan untuk mmenjadi guru dengan tujuan ekonomi.[35]
Pimpinan sebuah masjid akademi atau sebuah madrasah,menerima antara 15 sampai 60 dirham setiap bulan,jabatan-jabatan yang lebih rendah dalam lembaga-lembaga ini menerima gaji yang lebih kecil,tetapi perlu di ingat bahwa seorang ilmuwan bisa menjabat beberapa posisi diberbagai lembaga dan melipatkan gandakan penghasilanya,mereka yang mengajarkan fiqh atau ilmu-ilmu asing dibolehkan memungut uang dari muridnya,biasanya jumlahnya ditentukan oleh murid dan guru,dan dibayar diawal masa belajar,satu dirham perhari dianggap sebagai biaya pendidikan yang pantas dan beberapa ilmuwan menjadi kaya dari penghasilanya sebagai guru-misalnya ada yang mencapai penghasilan 1000(seribu) dirham perbulan,tetapi kasus seperti ini agak jarang.uang bukan merupakan pertimbangan utama bagi mereka yang mengabdikan dirinya pada pengetahuan,status dan kehormatan yang diberikan kepada ilmuwan adalah penjelasan yang lebih masuk akal atas usaha keras para ilmuwan sepanjang masa klasik Islam.[36]
Para guru yang mengajarkan tata bahasa,sastra dan aritmetika di kuttab secular mendapatkan imbalan jasa mereka meskipun sangat sederhana,sebaliknya para ulama mengajarkan agama tidak menerima imbalan untuk jasa tersebut,mereka menerima imbalan bila mereka juga mengajarkan tata bahasa, menulis, dan aritmetika,,meskipun guru mendapatkan pengecualian dalam beberapa jenis pajak,tetapi status ekonomi mereka paling tepat bisa disebut miskin tetapi terhormat,biaya pendidikan non-agama berbeda-beda,berkisar pada 500-1000 dirham untuk satu tahun(lebih kurang U.S.$ 120-240 uang sekarang).[37] Jumlah biaya pendidikan tergantung pada financial orang tua murid dan sangat fleksible,biaya ini juga merefleksikan kemajuan siswa-sebab di samping biaya ketika pendaftaran,biaya tambahan akan di pungut ketika siswa telah menyelesaikan satu paket tertentu dari pendidikanya(misalnya,satu surah dari al-qur’an).[38]
Guru menempati status Sosial yang tinggi,tetapi dituntut untuk sederhana dan rendah hati dalam kehidupanya,sifat-sifat guru yang dikehendaki adalah”menikah, tidak terlalu muda, berakhlak baik dan jujur,[39] mereka yang tak mampu hidup dengan gaji sebagai guru saja bekerja dalam berbagai bidang ditengah masyarakat,misalnya menjadi buruh, pengrajin, atau pegawai masjid yang yang dibiayai  oleh keuangan local.[40]
Guru yang mengajar di sekolah istana atau rumah keluarga  hartawan memperoleh gaji lebih baik,penginapan,makanan dan fasilitas lainya,tergantung pada kekayaan satu keluarga,seorang guru mungkin dihadiahi kuda, perabotan, rumah,gundik, dan kesempatan untuk bepergian dan bergaul dengan kelompok elit masyarakat,shalaby mengutip gaji rata-rata sekitar 1.000 dirham perbulan,(sekitarU.S.$ 240),walaupun banyak yang menerima lebih besar dari itu.[41]

e.       Wafatnya Al-Ma’mun
Al-ma’mun wafat sewaktu sedang berperang di tarsus tahun 218 H.usianya saat itu 48 tahun,semoga Allah SWT merahmatinya,sesuai dengan bakti dan kebaikan yang disumbangkan kepada agama islam dan kaum muslimin.[42]


Kesimpulan
Berkembangnya ilmu pengetahuan dan peradaban yang menjadi tonggak puncak peradaban islam zaman keemasan dalam islam disebabkan karena institusi pendidikan islam yang telah menerapkan konsep pendidikan berbasis multicultural,nilai-nilai multicultural yang actual dikembangkan saat itu adalah toleransi, keterbukaan, kesederajatan, kebebasan, keadilan, kemiskinan, keragaman dan demokrasi,pesatnya peradaban dan perkembangan ilmu juga didukung oleh tokoh-tokoh pendidik yang memiliki Visi dan Misi berbasis cultural.
Perekonomian yang sangat cukup memadai untuk dapat mengembangkan ilmu pengetahuan,hampir semua keinginan untuk menerjemahkan buku-buku pengetahuan dapat tercapai terbukti dengan adanya perpustakaan ilmu,boleh  dikata zaman keemasan islam kala khalifah Al-ma’mun memerintah benar benar terwujud dan sampai sekarang dapat dinikmati oleh semua elemen bangsa di dunia.
Disamping itu guru-guru yang mengajar kala itu hamper semua sejahtera oleh adanya kemakmuran,bahkan seorang guru boleh memiliki jabatan rangkap( mengajar lebih dari satu mata pelajaran) hingga memungkinkan mendapatkan penghasilan tambahan.
Seandainya khalifah al-ma’mun tidak memiliki keberanian dalam merubah situasi dan keadaan zaman kala itu,mungkin islam dan pendidikan islam tidak akan secerah seperti saat ini.









DAFTAR RUJUKAN

.A.Syalabi,Sejarah kebudayaan Islam,Jakarta:PT Pustaka Al-Husna Baru,2003
A.Hasjmi,Sejarah Kebudayaan Islam,
Badri yatim,Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II:PT rajaGrafindo Persada.Jakarta 
Badri Yatim:Sejarah Peradaban Islam Dirasyah Islamiyah II,Jakarta:PT RajaGrafindo Persada,1993
Philip K.Hitti:History of arabs,Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta,201
Samsul Nizar:sejara pendidikan islam,Jakarta:kencana,2007
Suwito, Fauzan, :seajarah Sosial pendidikan islam, Jakarta:kencana,2005
Yusuf Qordhawi:Meluruskan Sejarah Umat Islam,Jakarta: PT RajaGrafindo persada
Charles Michael Stanton dalam  Shalaby,History Of Muslim Education,
Charles Michael Stanton dalam   Triton,History Of Muslim Education .


[1].Suwito,Fauzan:seajarah social pendidikan islam, Jakarta:kencana,2005
[2] Ibid hal.32
[3] Ibid hal.11
[4] Badri Yatim:Sejarah Peradaban Islam Dirasyah Islamiyah II,Jakarta:PT RajaGrafindo Persada,1993
[5] Badri yatim,Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II:PT rajaGrafindo Persada.Jakarta h.53
[6] Suwito, fauzan:Sejarah Social Pendidikan Islam,Jakarta :kencana,2005
[7] Samsul Nizar:sejara pendidikan islam,Jakarta:kencana,2007
[8] Badri yatim,Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II:PT rajaGrafindo Persada.Jakarta h.53
[9] .A.Syalabi,Sejarah kebudayaan Islam,Jakarta:PT Pustaka Al-Husna Baru,2003
[10] A.Hasjmi,Sejarah Kebudayaan Islam,hlm.211
[11]Suwito,Fauzan:Sejarah Sosial Pendidikan Islam,Jakarta,kencana.2005.hal 58
[12] ibid
[13] Yusuf qordhawi:Meluruskan Sejarah Umat Islam,Jakarta: PT RajaGrafindo persada
[14] Philip K.Hitti:History of arabs,Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta,2010
[15] Suwito,Fauzan,Sejarah Pendidikan Islam,Jakarta:Kencana,2005
[16] Ibid.hal 25
[17] Philip k hitti:History of arabs,Jakarta: PT Serambi Ilmu,semesta,2010
[18] Ibid  hal.400
[19] Ibid .Hal.437
[20] Ibid hal.438
[21] Ibid.hal 407
[22] Philip k.hitti dalam At thabari jilid III.hal 830,867
[23] A.Syalabi,Sejarah dan kebudayaan Islam,Jakarta:PT Pustaka Al Husna Baru,2003.h121
[24] ibid
[25] Ibid.h.122
[26] Philip k.Hitti,hal.427
[27] Ahmad Syalabi,Sejarah Kebudayaan Islam,Jakarta:PT.Pustaka AlHusna Baru,2003.hal.124
[28] Suwiti,fauzan,Sejarah Sosial Pendidikan Islam,Jakarta:kencana,2005.hal.30
[29] Ibid.hal 30                        
[30] Ibid.hal 30-31
[31] Ibid.hal 31
[32] Ibid.hal 32
[33] Charles Michael Stanton,Pendidikan Tinggi Dalam Islam,Jakarta:Logos Publishing House,1994.hal 39
[34] Charles Michael Stanton dalam Shalaby op cit hal.39
[35] Ibid.
[36] Charles Michael Stanton,op.cit hal.40
[37] Charles Michael Stanton dalam A.S Tritton,Muslim Education In the Middle Ages ( London:Luzas,1957),25.tidak tersedianya informasi tentang daya beli dan pengaruh inflasi menutup kemungkinan mengetahui nilai uang dari satu periode atau budaya kepada yang lain.dengan menggunakan perkiraan oleh Durant,Hitti dan Suyuti(lihat bibliografi),nilai satu dirham dalam dolar Amerika (US.Dollar)pada pertengahan abad ke 20 adalah sekitar 0,24 dollar    ( 24 sen).
[38] Charles Michael Stanton dalam  Shalaby,History Of Muslim Education,hal.21
[39] Charles Michael Stanton dalam   Triton,History Of Muslim Education .hal 21
[40] Charles Michael Stanton, op.cit hal 21
[41] Ibid.hal 22
[42] Ibid.hal 127

Tidak ada komentar:

Posting Komentar