Minggu, 18 Februari 2018

SEJARAH SOSIAL PENDIDIKAN DI MASA ALI BIN ABI THALIB


BAB II
SEJARAH SOSIAL PENDIDIKAN
DI MASA ALI BIN ABI THALIB

Pendahuluan
1.        Latar Belakang
Perkembangan peradaban dan kebudayaan Islam yang dilandasi dengan semangat persatuan Islam telah ditanamkan Rasulullah SAW sejak awal perkembangan Islam di Timur Tengah. Banyak sekali hal-hal baru yang dilakukan Rasulullah SAW, sehingga pada masa ini dikatakan sebagai zaman ideal, zaman yang meletakkan dasar-dasar kebudayaan Islam.[1]
Nabi bukan hanya menjadi pemimpin agama melainkan juga pemimpin Negara. Peradaban yang ditanamkan Nabi tidak hanya berkisar tentang masalah keagamaan saja melainkan masalah ekonomi, politik, pendidikan dan ilmu pengetahuan. Langkah Rasulullah ini kemudian dilanjutkan oleh sahabat-sahabat beliau yang arif dan bijaksana serta mempunyai komitmen yang kokoh untuk meneruskan perjuangan Nabi tanpa melenceng dari ajaran yang telah diajarkan Nabi.[2] Dalam menjalankan misinya mereka menghadapi berbagai rintangan baik yang bersifat internal maupun ekternal. Namun, berkat senangat dan kegigihan mereka dalam berdakwah, akhirnya Islam bisa melabarkan sayapnya ke seluruh semenanjung Arabia.[3]
Dewasa ini, fenomena masyarakat Islam sangat menyedihkan mayoritas orang-orang Islam lebih banyak mengadopsi budaya/ peradaban orang-orang non muslim. Semua itu merupakan cerminan dari potret perkembangan di masing-masing kawasan dunia Islam yang terus menerus menunjukkan dinamikanya. Mereka berasumsi bahwa kepemimpinan dan pendidikan yang ideal adalah yang paling banyak meniru budaya Barat. Maka dalam makalah ini, penulis akan mengangkat topik tentang sejarah kehidupan dan pendidikan pada masa Khulafa ar-rasyidun, yaitu Sayyidina Ali bin Abi Thalib selaku khalifah terakhir dalam sejarah al-Khulafa ar-Rasyidun yang meneladani akhlak Rasul dan telah menorehkan sejarah perjuangan Islam hingga saat ini.

2.        Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, penulis dapat merumuskan beberapa masalah, yaitu:
1)      Bagaimana profil Ali bin Abi Thalib?
2)      Bagaimana sistem pemerintahannya?
3)      Apa saja kontribusi Ali bin Abi Thalib dalam bidang pendidikan dan perkembangan peradaban Islam?

Pembahasan
1.      Profil Ali bin Abi Thalib
Ali dilahirkan di Hijaz-Mekkah pada tanggal 13 Rajab. Menurut sejarawan, Ali dilahirkan 10 tahun sebelum dimulainya kenabian Muhammad, sekitar tahun 599 Masehi atau 600 (perkiraan). Muslim Syi’ah percaya bahwa Ali dilahirkan di dalam Ka’bah.[4] Usia Ali terhadap Nabi Muhammad masih diperselisihkan hingga kini, sebagian menyebut 25 tahun, ada yang berbeda 27 tahun.[5]
Beliau bernama asli Haydar bin Abu Thalib, paman Nabi Muhammad SAW. Haydar yang berarti Singa adalah harapan keluarga Abu Thalib untuk mempunyai penerus yang dapat menjadi tokoh pemberani dan disegani di antara Quraisy Mekkah.[6] Setelah mengetahui sepupu yang baru lahir diberi nama Haydar, Nabi SAW memanggil dengan Ali yang berarti Tinggi (derajat di sisi Allah).[7]
Ali dilahirkan dari ibu yang bernama Fatimah binti Asad, dimana Asad merupakan anak dari Hasyim, sehingga menjadikan Ali, merupakan keturunan Hasyim dari sisi Bapak dan Ibu.[8] Sifat dan pribadi Ali adalah:
a.    Pemberani. Ali punya keberanian seperti Umar tidak takut mati mengemban misi suci, dakwah Islam.
b.    Cerdas. Beliau adalah samudra ilmu yang diakui oleh Rasul, sehingga disesut “Babul Ilmi (pintu ilmu)”.
c.    Fasih. Beliau adalah sahabat yang paling fasih dan banyak memiliki kata-kata mutiara penuh hikmah.
d.    Sederhana. Beliau adalah seorang sahabat Rasul yang zuhud dan wara’.
Dengan mengetahui beberapa sifat dan kepribadian Ali yang baik itulah, Rasulullah menihkahkan Ali dengan Fatimah Az-Zahra putri kesayangan Rasul.[9]

2.      Kebijakan Politik Masa Pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib
Peristiwa pembunuhan terhadap Khalifah Utsman bin Affan mengakibatkan kegentingan di seluruh dunia Islam yang waktu sudah membentang sampai ke Persia dan Afrika Utara. Pemberontak yang waktu itu menguasai Madinah tidak mempunyai pilihan lain selain Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah, waktu itu Ali berusaha menolak, tetapi Zubair bin Awwam dan Talhah bin Ubaidillah memaksa beliau, sehingga akhirnya Ali menerima bai’at mereka. Menjadikan Ali sebagai satu-satunya khalifah yang dibai’at secara missal, karena khalifah sebelumnya dipilih melalui cara yang berbeda-beda.[10]
Sebagai khalifah ke-4 yang memerintah sekitar 5 tahun.[11] Masa pemerintahannya mewarisi kekacauan yang terjadi pada saat khalifah sebelumnya, Utsman bin Affan. Untuk pertama kalinya perang saudara antara umat Muslim terjadi pada saat masa pemerintahannya, Perang Jamal. 20.000 pasukan pimpinan Ali melawan 30.000 pasukan pimpinan Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah, dan Ummul Muiminin Aisyah binti Abu Bakar, janda Rasulullah. Perang tersebut dimenangkan oleh pihak Ali.[12]
Peristiwa pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan yang menurut berbagai kalangan waktu itu sulit diselesaikan, karena fitnah yang sudah terlanjur meluas dan sudah diisyaratkan (akan terjadi) oleh Nabi Muhammad SAW ketika beliau masih hidup,[13] dan diperparah oleh hasutan-hasutan para pembangkang yang ada sejak zaman Utsman bin Affan,[14] menyebabkan perpecahan di kalangan kaum muslim sehingga menyebabkan perang tersebut. Tidak hanya selesai di situ, konflik berkepanjangan terjadi hingga akhir pemerintahannya. Perang Shiffin yang melemahkan kekhalifahannya juga berawal dari masalah tersebut.[15]
Ali bin Abi Thalib, seseorang yang memiliki kecakapan dalam bidang militer dan strategi perang, mengalami kesulitan dalam administrasi Negara karena kekacauan luar biasa yang ditinggalkan pemerintahan sebelumnya. Ia meninggal di usia 63 tahun karena pembunuhan oleh Abdurrahman bin Muljam, seseorang dari golongan Khawarij (pembangkang) saat mengimami shalat shubuh di masjid Kufah, pada tanggal 19 Ramadhan, dan Ali menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 21 Ramadhan tahun 40 Hijriyah. Ali dikuburkan secara rahasia di Najaf, bahkan ada beberapa riwayat yang menyatakan bahwa ia dikubur di tempat lain.
Dengan kondisi seperti yang dijelaskan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa kebijakan politik yang dilakukan oleh Khalifah Ali, yaitu:
a.       Melakukan penyelidikan terhadap pembunh Utsman bin Affan[16]
b.      Memindah ibu kota pemerintahan ke Kufah
c.       Mengganti seluruh Amir yang diangkat oleh Utsman
d.      Mengambil kembali tanah-tanah yang dibagikan Utsman kepada keluarganya
e.       Memerangi orang-orang yang ingin menghancurkan pemerintahannya
f.       Meneruskan kebijalan khalifah sebelumnya, terutama dalam penyebaran ilmu-ilmu agama (pengajaran Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW).[17]
Khusus pada pemerintahan Ali bin Abi Thalib, perluasan wilayah untuk kejayaan Islam nyaris tidak ada.[18] Semua ini terjadi karena banyaknya masalah-masalah intern yang lebih nyata dan lebih berbahaya kalau didiamkan begitu saja. Wilayah kekuasaan Islam masih seperti masa Utsman memerintah,[19] hanya saja stabilitas politik dalam negeri terganggu akibat terjadinya pembunuhan Utsman bin Affan.[20]

3.      Pendidikan Pada Masa Khalifah Ali bin Abi Thalib
Pada dasarnya pengembangan pendidikan Islam pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib tidak banyak dibahas dalam berbagai referensi, karena kondisi pemerintahan Islam saat itu tidak stabil dan fokus kepada pertahanan militer Negara.[21] Namun, keilmuan tetap berjalan melanjutkan tradisi keilmuan sejak masa Nabi sampai Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar dan Khalifah Utsman.[22]
Pada masa Ali telah terjadi kekacauan dan pemberontakan, sehingga di masa ia berkuasa pemerintahannya tidak stabil. Dengan kericuhan politik pada masa Ali berkuasa, kegiatan pendidikan Islam mendapat hambatan dan gangguan. Pada saat itu Ali tidak sempat lagi memikirkan masalah pendidikan sebab keseluruhan perhatiannya itu sudah ditumpahkan pada masalah keamanan dan kedamaian bagi seluruh masyarakat Islam.[23] Adapun pusat-pusat pendidikan pada masa Khulafaur Rasyidin antara lain:
a.       Makkah
b.      Madinah
c.       Basrah
d.      Kuffah
e.       Damsyik (Syam)
f.       Mesir.[24]

4.      Kurikulum Pendidikan Islam Masa Khulafaur Rasyidin (Ali bin Abi Thalib/ 632-661 M/ 12-41 H)
Sistem pendidikan Islam pada masa Khulafa al-Rasyidin dilakukan secara mandiri, tidak dikelola oleh pemerintah, kecuali sejak masa Khalifah Umar bin Khattab sampai pada Ali bin Abi Thalib, dengan menambahkan materi kurikulum pada lembaga kuttab. Materi pendidikan Islam yang diajarkan untuk pendidikan dasar.[25]
a.       Membaca dan menulis
b.      Membaca dan menghafal Al-Qur’an
c.       Pokok-pokok agama Islam, seperti cara thaharah, wudlu, shalat, shaum, zakat, zakat dan haji
d.      Mengendarai unta
e.        Memanah
f.       Membaca dan menghafal syair-syair yang mudah dan peribahasa.
Sedangkan materi pendidikan pada tingkat menengah dan tingkat atas terdiri dari:
a.       Al-Qur’an dan tafsirnya
b.      Hadits dan pengumpulannya
c.       Fiqh (tasyri’).[26]
Sahabat-sahabat yang masyhur di Kuffah ialah Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud. Abdullah bin Mas’ud mengajarkan Al-Qur’an, ia adalah ahli tafsir, hadits dan Fiqh.[27]
Ilmu pengetahuan yang berkembang di masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib, di antaranya adalah:[28]
a.       Ilmu Al-Qur’an
b.      Ilmu Hadits
c.       Ilmu Nahwu
d.      Ilmu Tafsir
e.       Ilmu Hukum (Fiqih Islam)
f.       Ilmu Kalam (Teologi)
g.       Ilmu Filsafat
h.      Tasawuf

Metode yang diterapkan:
a.       Metode Istima’ (mendengarkan bacaan)
b.      Metode Talaqqi (memperdengarkan bacaan)
c.       Metode Hafalan[29]
d.      Metode Nass (mencari rujukan hukum Al-Qur’an/ Hadits)
e.       Metode Kias (penalaran logis).[30]
Adapun proses pendidikan yang pada saat itu di antaranya sebagai berikut:


No
Tempat Belajar
Materi, Strategi dan Pengajar
1
Masjid
Materi yang diajarkan adalah Al-Qur’an, pengenalan aqidah dan syariat Islam, lebih diprioritaskan sebagai tempat mengenalkan dan mengajarkan Islam. Pengajarnya adalah para sahabat besar.[31]
2
Kuttab (lembaga pendidikan dasar, ada juga yang di serambi masjid, rumah dan toko)[32]
1.  Belajar membaca dan menulis, dengan materi teks-teks puisi Arab, sebagian besar pengajarnya adalah non muslim
2.  Pengajaran Al-Qur’an dan dasar-dasar agama Islam. Pengajarnya adalah para sahabat terdekat.[33]
3
Halaqoh
Materi yang diajarkan adalah pengetahuan seputar agama atau permasakahan umum kemasyarakatan. Pengajarnya adalah seorang guru dari sahabat dan peserta didiknya tidak terpaut usia.[34]
4
Madrasah
1.Madrasah Mekkah, Guru pertama adalah Mu’adz bin Jabal, dialah yang mengajarkan Al-Qur’an, perkara yang halal dan haram dalam Islam.
2.Madrasah Madinah, lebih masyhur dan lebih dalam ilmunya, mempelajari Al-Qur’an, Tafsir, Hadits, Nahwu, Fiqh. Pengajarnya adalah khulafau ar-Rasyidin, Zaid bin Tsabit, Abu Al Aswad Al-Duwaly dan Abdullah bin Umar.[35]



Kesimpulan
Ali bin Abi Thalib bernama asli Haydar bin abi Thalib, Haydar yang berarti Singa adalah harapan keluarga Abu Thalib untuk mempunyai penerus yang dapat menjadi tokoh pemberani dan disegani di antara Quraisy Mekkah.[36] Setelah mengetahui sepupu yang baru lahir diberi nama Haydar, Nabi SAW memanggil dengan Ali yang berarti Tinggi (derajat di sisi Allah).[37] Sifat dan pribadi Ali adalah”
Pemberani, cerdas, sehingga Rasul menyebutnya “Babul Ilmi (pintu ilmu)”, fasih, sederhana, zuhud dan wara’
Pada masa Ali terjadi kekacauan dan pemberontakan, sehingga di masa ia berkuasa pemerintahannya tidak stabil. Dengan kericuhan politik pada masa Ali berkuasa, kegiatan pendidikan Islam mendapat hambatan dan gangguan. Pada saat itu Ali tidak sempat lagi memikirkan masalah pendidikan sebab keseluruhan perhatiannya itu sudah ditumpahkan pada masalah keamanan dan kedamaian bagi seluruh masyarakat Islam.[38]
Namun, meskipun demikian  kontribusi Ali bin Abi Thalib dalam bidang pendidikan dan perkembangan peradaban Islam sangatlah besar dan tidak lekang dihapus masa. Karena kepandaiannya, muncullah ilmu Hadits, ilmu Nahwu, ilmu Tafsir, ilmu Hukum (Fiqh Islam), ilmu Kalam (Teologi), ilmu Filsafat, Tasawuf dengan menggunakan beberapa metode yang diterapkan yaitu: metode Istima’ (mendengarkan bacaan), metode Talaqqi (memperdengarkan bacaan), metode Hafalan[39], metode Nass (mencari rujukan hukum Al-Qur’an/ Hadits) dan metode Kias (penalaran logis).[40]
DAFTAR RUJUKAN

Ali Al-Musawi, Abbas, Ali bin Abi Thalib Manusia Sempurna, Jakarta: Cahaya, 2008.
Al-Husaini, Al-Hamid, Imamul Muhtadin Ali bin Abi Thalib, Bandung Pustaka Hidayah, 2008.
Al-Maududi, Abul A’la, Khilafah dan Kerajaan, Bandung: Karisma, 2007.
Al Usairy, Ahmad, Sejarah Islam, Jakarta: Akbar Media, 2007
Amstrong, Karen, Sejarah Islam Singkat, Yogyakarta: Elbanin Media, 2008.
Asrahah, Hanun, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Logos, 1999.
Hamdani, Anwar, Masa al-Khulafa ar-Rasyidan, dalam Ensiklopedia Tematis Dunia Islam Jilid 2 (Khilafah), Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, t.t.
Ja’farin, Sejarah Islam Sejak Wafat Nabi SAW Hingga Runtuhnya Dinasti Bani Umayyah, Jakarta: Lentera, 2004.
Karim, M. Abdul, Sejarah Pemikiran dan Peradaban, Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007.
Maryam, Sitti, Sejarah Peradaban Islam; dari Masa Klasik Hingga Modern, Yogyakarta: Logos, 2009 cet. 9.
Murodi, Ali, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Jakarta: Logos, 1997.
Murad, Musthafa, Kisah Hidup Ali Ibn Abi Thalib, Jakarta: Zaman, 2007.
Nizar, Samsul, Sejarah Pendidikan Islam; Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia, Jakarta: Kencana, 2007.
Majdi, Fathi Sayyid, Mari Mengenal Khulafaurrasyidin, Jakarta: Gema Insani Press, 2003.
Supriyadi, Dedi, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2008.
Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1990.
http://elang-jawa-hidup.blogspot.com/2010/12/makalah-spi-pengembangan-pendidikan. html. (diakses 1 Januari 2011).


[1] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam; Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia, Jakarta: Kencana, 2007. Hlm. 10
[2] Sitti Maryam, Sejarah Peradaban Islam; dari Masa Klasik Hingga Modern, Yogyakarta: Logos, 2009 cet. 9. Hlm. 13
[3] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2008., Hlm. 23
[4] Al-Hamid Al-Husaini, Imamul Muhtadin Ali bin Abi Thalib, Bandung: Pustaka Hidayah, 2008., Hlm 10
[5] Abbas Ali Musawi, Ali bin Abi Thalin Manusia Sempurna, Jakarta: Cahaya, 2008., Hlm. 12
[6] Ibid.,
[7] Anwar Hamdani, Masa al-Khulafa ar-Rasyidan, dalam Ensiklopedia Tematis Dunia Islam Jilid 2 (Khilafah), Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, t.t., Hlm. 23
[8] Al-Hamid Al-Husaini, Loc. Cit. Hlm. 15
[9] Musthafa Murad, Kisah Hidup Ali Ibn Abi Thalib, Jakarta: Zaman, 2007, hlm. 27
[10] Abul A’la Al Maududi, Khilafah dan Kerajaan, Bandung: Karisma, 2007, hlm. 46
[11] Ahmad Al Usairy, Sejarah Islam, Jakarta: Akbar Media, 2007, hlm. 57
[12] Ibid., hlm. 60
[13] Al-Hamid Al-Husaini, Op. Cit., hlm. 15
[14] Ahmad Al Usairy, Loc. Cit., hlm. 43
[15] Mustafa Murad, Op. Cit., hlm. 30
[16] Fathi Sayyid Majdi, Mari Mengenal Khulafaurrasyidin, Jakarta: Gema Insani Press, 2003., hlm. 79
[17] Musthafa Murad. Loc. Cit., hlm. 33
[18] Ja’farin, Sejarah Islam Sejak Wafat Nabi SAW Hingga Runtuhnya Dinasti Bani Umayyah, Jakarta: Lentera, 2004., hlm. 57
[19] Ahmad Al-Usairy, Op. Cit., hlm. 68
[20] http://elang-jawa-hidup.blogspot.com/2010/12/makalah-spi-pengembangan-pendidikan. html. (diakses 1 Januari 2011).
[21] Karen Amstrong, Sejarah Islam Singkat, Yogyakarta: Elbanin Media, 2008., hlm. 99
[22] Ja’farin, Op. Cit., hlm. 65
[23] M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban, Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007., hlm. 89
[24] Samsul Nizar, Op. Cit., hlm. 242
[25] Hanun Asrahah, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Logos, 1999., hlm. 56
[26] Ibid., hlm. 57
[27] M. Abdul Karim, Op. Cit., 92
[28] Ibid., 93
[29] Ali Murodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Jakarta: Logos, 1997., hlm. 79
[30] Ibid., hlm. 80
[31] Samsul Nizar, Op. Cit., hlm. 241
[32] Hanun Asrahah, Op. Cit., hlm. 48
[33] Samsul Nizar, Loc. Cit., hlm. 8
[34] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1990., hlm. 34
[35] Ibid
[36] Ibid.,
[37] Anwar Hamdani, Masa al-Khulafa ar-Rasyidan, dalam Ensiklopedia Tematis Dunia Islam Jilid 2 (Khilafah), Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, t.t., Hlm. 23
[38] M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban, Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007., hlm. 89
[39] Ali Murodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Jakarta: Logos, 1997., hlm. 79
[40] Ibid., hlm. 80