BAB II
SEJARAH SOSIAL PENDIDIKAN
DI MASA ALI BIN ABI THALIB
Pendahuluan
1.
Latar Belakang
Perkembangan peradaban dan kebudayaan Islam yang dilandasi dengan
semangat persatuan Islam telah ditanamkan Rasulullah SAW sejak awal
perkembangan Islam di Timur Tengah. Banyak sekali hal-hal baru yang dilakukan
Rasulullah SAW, sehingga pada masa ini dikatakan sebagai zaman ideal, zaman
yang meletakkan dasar-dasar kebudayaan Islam.[1]
Nabi bukan hanya menjadi pemimpin agama melainkan juga pemimpin
Negara. Peradaban yang ditanamkan Nabi tidak hanya berkisar tentang masalah
keagamaan saja melainkan masalah ekonomi, politik, pendidikan dan ilmu
pengetahuan. Langkah Rasulullah ini kemudian dilanjutkan oleh sahabat-sahabat
beliau yang arif dan bijaksana serta mempunyai komitmen yang kokoh untuk
meneruskan perjuangan Nabi tanpa melenceng dari ajaran yang telah diajarkan
Nabi.[2]
Dalam menjalankan misinya mereka menghadapi berbagai rintangan baik yang
bersifat internal maupun ekternal. Namun, berkat senangat dan kegigihan mereka
dalam berdakwah, akhirnya Islam bisa melabarkan sayapnya ke seluruh semenanjung
Arabia.[3]
Dewasa ini, fenomena masyarakat Islam sangat menyedihkan mayoritas
orang-orang Islam lebih banyak mengadopsi budaya/ peradaban orang-orang non
muslim. Semua itu merupakan cerminan dari potret perkembangan di masing-masing
kawasan dunia Islam yang terus menerus menunjukkan dinamikanya. Mereka
berasumsi bahwa kepemimpinan dan pendidikan yang ideal adalah yang paling
banyak meniru budaya Barat. Maka dalam makalah ini, penulis akan mengangkat topik
tentang sejarah kehidupan dan pendidikan pada masa Khulafa ar-rasyidun, yaitu
Sayyidina Ali bin Abi Thalib selaku khalifah terakhir dalam sejarah al-Khulafa
ar-Rasyidun yang meneladani akhlak Rasul dan telah menorehkan sejarah
perjuangan Islam hingga saat ini.
2.
Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, penulis dapat merumuskan beberapa
masalah, yaitu:
1)
Bagaimana profil Ali bin Abi Thalib?
2)
Bagaimana sistem pemerintahannya?
3)
Apa saja kontribusi Ali bin Abi Thalib dalam bidang pendidikan dan
perkembangan peradaban Islam?
Pembahasan
1.
Profil Ali bin
Abi Thalib
Profil Ali bin
Abi Thalib
Ali dilahirkan di Hijaz-Mekkah pada tanggal 13 Rajab. Menurut
sejarawan, Ali dilahirkan 10 tahun sebelum dimulainya kenabian Muhammad,
sekitar tahun 599 Masehi atau 600 (perkiraan). Muslim Syi’ah percaya bahwa Ali
dilahirkan di dalam Ka’bah.[4]
Usia Ali terhadap Nabi Muhammad masih diperselisihkan hingga kini, sebagian
menyebut 25 tahun, ada yang berbeda 27 tahun.[5]
Beliau bernama asli Haydar bin Abu Thalib, paman Nabi
Muhammad SAW. Haydar yang berarti Singa adalah harapan keluarga Abu
Thalib untuk mempunyai penerus yang dapat menjadi tokoh pemberani dan disegani
di antara Quraisy Mekkah.[6]
Setelah mengetahui sepupu yang baru lahir diberi nama Haydar, Nabi SAW
memanggil dengan Ali yang berarti Tinggi (derajat di sisi Allah).[7]
Ali dilahirkan dari ibu yang bernama Fatimah binti Asad, dimana
Asad merupakan anak dari Hasyim, sehingga menjadikan Ali, merupakan keturunan
Hasyim dari sisi Bapak dan Ibu.[8]
Sifat dan pribadi Ali adalah:
a.
Pemberani. Ali punya keberanian seperti Umar tidak takut mati
mengemban misi suci, dakwah Islam.
b.
Cerdas. Beliau adalah samudra ilmu yang diakui oleh Rasul, sehingga
disesut “Babul Ilmi (pintu ilmu)”.
c.
Fasih. Beliau adalah sahabat yang paling fasih dan banyak memiliki
kata-kata mutiara penuh hikmah.
d.
Sederhana. Beliau adalah seorang sahabat Rasul yang zuhud dan
wara’.
Dengan mengetahui beberapa sifat dan kepribadian Ali yang baik
itulah, Rasulullah menihkahkan Ali dengan Fatimah Az-Zahra putri kesayangan
Rasul.[9]
2.
Kebijakan Politik Masa Pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib
Peristiwa pembunuhan terhadap Khalifah Utsman bin Affan
mengakibatkan kegentingan di seluruh dunia Islam yang waktu sudah membentang
sampai ke Persia dan Afrika Utara. Pemberontak yang waktu itu menguasai Madinah
tidak mempunyai pilihan lain selain Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah, waktu
itu Ali berusaha menolak, tetapi Zubair bin Awwam dan Talhah bin Ubaidillah
memaksa beliau, sehingga akhirnya Ali menerima bai’at mereka. Menjadikan Ali
sebagai satu-satunya khalifah yang dibai’at secara missal, karena khalifah
sebelumnya dipilih melalui cara yang berbeda-beda.[10]
Sebagai khalifah ke-4 yang memerintah sekitar 5 tahun.[11]
Masa pemerintahannya mewarisi kekacauan yang terjadi pada saat khalifah
sebelumnya, Utsman bin Affan. Untuk pertama kalinya perang saudara antara umat
Muslim terjadi pada saat masa pemerintahannya, Perang Jamal. 20.000 pasukan
pimpinan Ali melawan 30.000 pasukan pimpinan Zubair bin Awwam, Talhah bin
Ubaidillah, dan Ummul Muiminin Aisyah binti Abu Bakar, janda Rasulullah. Perang
tersebut dimenangkan oleh pihak Ali.[12]
Peristiwa pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan yang menurut
berbagai kalangan waktu itu sulit diselesaikan, karena fitnah yang sudah
terlanjur meluas dan sudah diisyaratkan (akan terjadi) oleh Nabi Muhammad SAW
ketika beliau masih hidup,[13]
dan diperparah oleh hasutan-hasutan para pembangkang yang ada sejak zaman Utsman
bin Affan,[14]
menyebabkan perpecahan di kalangan kaum muslim sehingga menyebabkan perang
tersebut. Tidak hanya selesai di situ, konflik berkepanjangan terjadi hingga
akhir pemerintahannya. Perang Shiffin yang melemahkan kekhalifahannya juga
berawal dari masalah tersebut.[15]
Ali bin Abi Thalib, seseorang yang memiliki kecakapan dalam bidang
militer dan strategi perang, mengalami kesulitan dalam administrasi Negara
karena kekacauan luar biasa yang ditinggalkan pemerintahan sebelumnya. Ia
meninggal di usia 63 tahun karena pembunuhan oleh Abdurrahman bin Muljam,
seseorang dari golongan Khawarij (pembangkang) saat mengimami shalat shubuh di
masjid Kufah, pada tanggal 19 Ramadhan, dan Ali menghembuskan nafas terakhirnya
pada tanggal 21 Ramadhan tahun 40 Hijriyah. Ali dikuburkan secara rahasia di
Najaf, bahkan ada beberapa riwayat yang menyatakan bahwa ia dikubur di tempat
lain.
Dengan kondisi seperti yang dijelaskan di atas, maka dapat
dirumuskan beberapa kebijakan politik yang dilakukan oleh Khalifah Ali, yaitu:
a.
Melakukan penyelidikan terhadap pembunh Utsman bin Affan[16]
b.
Memindah ibu kota pemerintahan ke Kufah
c.
Mengganti seluruh Amir yang diangkat oleh Utsman
d.
Mengambil kembali tanah-tanah yang dibagikan Utsman kepada
keluarganya
e.
Memerangi orang-orang yang ingin menghancurkan pemerintahannya
f.
Meneruskan kebijalan khalifah sebelumnya, terutama dalam penyebaran
ilmu-ilmu agama (pengajaran Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW).[17]
Khusus pada pemerintahan Ali bin Abi Thalib, perluasan wilayah
untuk kejayaan Islam nyaris tidak ada.[18]
Semua ini terjadi karena banyaknya masalah-masalah intern yang lebih nyata dan
lebih berbahaya kalau didiamkan begitu saja. Wilayah kekuasaan Islam masih
seperti masa Utsman memerintah,[19]
hanya saja stabilitas politik dalam negeri terganggu akibat terjadinya
pembunuhan Utsman bin Affan.[20]
3.
Pendidikan Pada Masa Khalifah Ali bin Abi Thalib
Pada dasarnya pengembangan pendidikan Islam pada masa Khalifah Ali
bin Abi Thalib tidak banyak dibahas dalam berbagai referensi, karena kondisi
pemerintahan Islam saat itu tidak stabil dan fokus kepada pertahanan militer
Negara.[21]
Namun, keilmuan tetap berjalan melanjutkan tradisi keilmuan sejak masa Nabi
sampai Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar dan Khalifah Utsman.[22]
Pada masa Ali telah terjadi kekacauan dan pemberontakan, sehingga
di masa ia berkuasa pemerintahannya tidak stabil. Dengan kericuhan politik pada
masa Ali berkuasa, kegiatan pendidikan Islam mendapat hambatan dan gangguan.
Pada saat itu Ali tidak sempat lagi memikirkan masalah pendidikan sebab
keseluruhan perhatiannya itu sudah ditumpahkan pada masalah keamanan dan
kedamaian bagi seluruh masyarakat Islam.[23]
Adapun pusat-pusat pendidikan pada masa Khulafaur Rasyidin antara lain:
a.
Makkah
b.
Madinah
c.
Basrah
d.
Kuffah
e.
Damsyik (Syam)
f.
Mesir.[24]
4.
Kurikulum Pendidikan Islam Masa Khulafaur Rasyidin (Ali bin Abi
Thalib/ 632-661 M/ 12-41 H)
Sistem pendidikan Islam pada masa Khulafa al-Rasyidin dilakukan
secara mandiri, tidak dikelola oleh pemerintah, kecuali sejak masa Khalifah
Umar bin Khattab sampai pada Ali bin Abi Thalib, dengan menambahkan materi
kurikulum pada lembaga kuttab. Materi pendidikan Islam yang diajarkan
untuk pendidikan dasar.[25]
a.
Membaca dan menulis
b.
Membaca dan menghafal Al-Qur’an
c.
Pokok-pokok agama Islam, seperti cara thaharah, wudlu, shalat,
shaum, zakat, zakat dan haji
d.
Mengendarai unta
e.
Memanah
f.
Membaca dan menghafal syair-syair yang mudah dan peribahasa.
Sedangkan materi pendidikan pada tingkat menengah dan
tingkat atas terdiri dari:
a.
Al-Qur’an dan tafsirnya
b.
Hadits dan pengumpulannya
c.
Fiqh (tasyri’).[26]
Sahabat-sahabat yang masyhur di Kuffah ialah Ali bin Abi Thalib dan
Abdullah bin Mas’ud. Abdullah bin Mas’ud mengajarkan Al-Qur’an, ia adalah ahli
tafsir, hadits dan Fiqh.[27]
Ilmu pengetahuan yang berkembang di masa pemerintahan Khalifah Ali
bin Abi Thalib, di antaranya adalah:[28]
a.
Ilmu Al-Qur’an
b.
Ilmu Hadits
c.
Ilmu Nahwu
d.
Ilmu Tafsir
e.
Ilmu Hukum (Fiqih Islam)
f.
Ilmu Kalam (Teologi)
g.
Ilmu Filsafat
h.
Tasawuf
Metode yang diterapkan:
a.
Metode Istima’ (mendengarkan bacaan)
b.
Metode Talaqqi (memperdengarkan bacaan)
c.
Metode Hafalan[29]
d.
Metode Nass (mencari rujukan hukum Al-Qur’an/ Hadits)
e.
Metode Kias (penalaran logis).[30]
Adapun proses pendidikan yang pada saat itu di antaranya sebagai
berikut:
|
No
|
Tempat Belajar
|
Materi, Strategi dan Pengajar
|
|
1
|
Masjid
|
Materi yang diajarkan adalah Al-Qur’an, pengenalan aqidah dan
syariat Islam, lebih diprioritaskan sebagai tempat mengenalkan dan
mengajarkan Islam. Pengajarnya adalah para sahabat besar.[31]
|
|
2
|
Kuttab
(lembaga pendidikan dasar, ada juga yang di serambi masjid, rumah dan toko)[32]
|
1. Belajar
membaca dan menulis, dengan materi teks-teks puisi Arab, sebagian besar
pengajarnya adalah non muslim
2. Pengajaran
Al-Qur’an dan dasar-dasar agama Islam. Pengajarnya adalah para sahabat
terdekat.[33]
|
|
3
|
Halaqoh
|
Materi
yang diajarkan adalah pengetahuan seputar agama atau permasakahan umum
kemasyarakatan. Pengajarnya adalah seorang guru dari sahabat dan peserta
didiknya tidak terpaut usia.[34]
|
|
4
|
Madrasah
|
1.Madrasah Mekkah, Guru pertama
adalah Mu’adz bin Jabal, dialah yang mengajarkan Al-Qur’an, perkara yang
halal dan haram dalam Islam.
2.Madrasah Madinah, lebih masyhur
dan lebih dalam ilmunya, mempelajari Al-Qur’an, Tafsir, Hadits, Nahwu, Fiqh.
Pengajarnya adalah khulafau ar-Rasyidin, Zaid bin Tsabit, Abu Al Aswad
Al-Duwaly dan Abdullah bin Umar.[35]
|
Kesimpulan
Ali bin Abi Thalib bernama asli Haydar bin abi Thalib,
Haydar yang berarti Singa adalah harapan keluarga Abu Thalib untuk
mempunyai penerus yang dapat menjadi tokoh pemberani dan disegani di antara
Quraisy Mekkah.[36]
Setelah mengetahui sepupu yang baru lahir diberi nama Haydar, Nabi SAW
memanggil dengan Ali yang berarti Tinggi (derajat di sisi Allah).[37]
Sifat dan pribadi Ali adalah”
Pemberani,
cerdas, sehingga Rasul menyebutnya “Babul Ilmi (pintu ilmu)”, fasih,
sederhana, zuhud dan wara’
Pada masa Ali terjadi kekacauan dan pemberontakan, sehingga di masa
ia berkuasa pemerintahannya tidak stabil. Dengan kericuhan politik pada masa
Ali berkuasa, kegiatan pendidikan Islam mendapat hambatan dan gangguan. Pada
saat itu Ali tidak sempat lagi memikirkan masalah pendidikan sebab keseluruhan
perhatiannya itu sudah ditumpahkan pada masalah keamanan dan kedamaian bagi
seluruh masyarakat Islam.[38]
Namun, meskipun demikian
kontribusi Ali bin Abi Thalib dalam bidang pendidikan dan perkembangan
peradaban Islam sangatlah besar dan tidak lekang dihapus masa. Karena kepandaiannya,
muncullah ilmu Hadits, ilmu Nahwu, ilmu Tafsir, ilmu Hukum (Fiqh Islam), ilmu
Kalam (Teologi), ilmu Filsafat, Tasawuf dengan menggunakan beberapa metode yang
diterapkan yaitu: metode Istima’ (mendengarkan bacaan), metode Talaqqi
(memperdengarkan bacaan), metode Hafalan[39],
metode Nass (mencari rujukan hukum Al-Qur’an/ Hadits) dan metode Kias
(penalaran logis).[40]
DAFTAR RUJUKAN
Ali Al-Musawi, Abbas, Ali bin Abi Thalib Manusia Sempurna,
Jakarta: Cahaya, 2008.
Al-Husaini, Al-Hamid, Imamul Muhtadin Ali bin Abi Thalib,
Bandung Pustaka Hidayah, 2008.
Al-Maududi, Abul A’la, Khilafah dan Kerajaan, Bandung:
Karisma, 2007.
Al Usairy, Ahmad, Sejarah Islam, Jakarta: Akbar Media, 2007
Amstrong, Karen, Sejarah Islam Singkat, Yogyakarta: Elbanin
Media, 2008.
Asrahah, Hanun, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Logos,
1999.
Hamdani, Anwar, Masa al-Khulafa ar-Rasyidan, dalam Ensiklopedia
Tematis Dunia Islam Jilid 2 (Khilafah), Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve,
t.t.
Ja’farin, Sejarah Islam Sejak Wafat Nabi SAW Hingga Runtuhnya
Dinasti Bani Umayyah, Jakarta: Lentera, 2004.
Karim, M. Abdul, Sejarah Pemikiran dan Peradaban, Yogyakarta:
Pustaka Book Publisher, 2007.
Maryam, Sitti, Sejarah Peradaban Islam; dari Masa Klasik Hingga
Modern, Yogyakarta: Logos, 2009 cet. 9.
Murodi, Ali, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Jakarta:
Logos, 1997.
Murad, Musthafa, Kisah Hidup Ali Ibn Abi Thalib, Jakarta:
Zaman, 2007.
Nizar, Samsul, Sejarah Pendidikan Islam; Menelusuri Jejak
Sejarah Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia, Jakarta: Kencana, 2007.
Majdi, Fathi Sayyid, Mari Mengenal Khulafaurrasyidin,
Jakarta: Gema Insani Press, 2003.
Supriyadi, Dedi, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka
Setia, 2008.
Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: PT.
Hidakarya Agung, 1990.
http://elang-jawa-hidup.blogspot.com/2010/12/makalah-spi-pengembangan-pendidikan.
html. (diakses 1 Januari 2011).
[1]
Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam; Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan
Era Rasulullah Sampai Indonesia, Jakarta: Kencana, 2007. Hlm. 10
[2]
Sitti Maryam, Sejarah Peradaban Islam; dari Masa Klasik Hingga
Modern, Yogyakarta: Logos, 2009 cet. 9. Hlm. 13
[3]
Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2008.,
Hlm. 23
[4]
Al-Hamid Al-Husaini, Imamul Muhtadin Ali bin Abi Thalib, Bandung:
Pustaka Hidayah, 2008., Hlm 10
[5]
Abbas Ali Musawi, Ali bin Abi Thalin Manusia Sempurna, Jakarta: Cahaya,
2008., Hlm. 12
[6] Ibid.,
[7] Anwar
Hamdani, Masa al-Khulafa ar-Rasyidan, dalam Ensiklopedia Tematis
Dunia Islam Jilid 2 (Khilafah), Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, t.t., Hlm.
23
[8] Al-Hamid
Al-Husaini, Loc. Cit. Hlm. 15
[9]
Musthafa Murad, Kisah Hidup Ali Ibn Abi Thalib, Jakarta: Zaman, 2007,
hlm. 27
[10]
Abul A’la Al Maududi, Khilafah dan Kerajaan, Bandung: Karisma, 2007,
hlm. 46
[11]
Ahmad Al Usairy, Sejarah Islam, Jakarta: Akbar Media, 2007, hlm. 57
[12] Ibid.,
hlm. 60
[13]
Al-Hamid Al-Husaini, Op. Cit., hlm. 15
[14]
Ahmad Al Usairy, Loc. Cit., hlm. 43
[15]
Mustafa Murad, Op. Cit., hlm. 30
[16]
Fathi Sayyid Majdi, Mari Mengenal Khulafaurrasyidin, Jakarta: Gema
Insani Press, 2003., hlm. 79
[17]
Musthafa Murad. Loc. Cit., hlm. 33
[18]
Ja’farin, Sejarah Islam Sejak Wafat Nabi SAW Hingga Runtuhnya Dinasti Bani
Umayyah, Jakarta: Lentera, 2004., hlm. 57
[19]
Ahmad Al-Usairy, Op. Cit., hlm. 68
[20]
http://elang-jawa-hidup.blogspot.com/2010/12/makalah-spi-pengembangan-pendidikan.
html. (diakses 1 Januari 2011).
[21]
Karen Amstrong, Sejarah Islam Singkat, Yogyakarta: Elbanin Media, 2008.,
hlm. 99
[22]
Ja’farin, Op. Cit., hlm. 65
[23] M.
Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban, Yogyakarta: Pustaka Book
Publisher, 2007., hlm. 89
[24]
Samsul Nizar, Op. Cit., hlm. 242
[25]
Hanun Asrahah, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Logos, 1999., hlm. 56
[26] Ibid.,
hlm. 57
[27] M.
Abdul Karim, Op. Cit., 92
[28] Ibid.,
93
[29] Ali
Murodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Jakarta: Logos, 1997., hlm. 79
[30] Ibid.,
hlm. 80
[31]
Samsul Nizar, Op. Cit., hlm. 241
[32]
Hanun Asrahah, Op. Cit., hlm. 48
[33]
Samsul Nizar, Loc. Cit., hlm. 8
[34]
Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Hidakarya Agung,
1990., hlm. 34
[35] Ibid
[36] Ibid.,
[37]
Anwar Hamdani, Masa al-Khulafa ar-Rasyidan, dalam Ensiklopedia
Tematis Dunia Islam Jilid 2 (Khilafah), Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve,
t.t., Hlm. 23
[38] M.
Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban, Yogyakarta: Pustaka Book
Publisher, 2007., hlm. 89
[39] Ali
Murodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Jakarta: Logos, 1997., hlm. 79
[40] Ibid.,
hlm. 80