BAB I
SEJARAH SOSIAL PENDIDIKAN
PADA MASA KHALIFAH ABU BAKAR
Pendahuluan
Pendidikan mempunyai sejarah yang sangat panjang. Terlebih lagi
adalah pendidikan agama Islam. Pendidikan Islam berkembang seiring dengan
kemunculan Islam itu sendiri. Dalam konteks masyarakat Arab, Islam lahir dan berkembang
pertama kali dibawah pengajaran seorang Rasul, pembawa risalah suci dari Ilahi,
dialah Muhammad saw. kedatangan Islam
lengkap dengan usaha-usaha pendidikan merupakan transformasi besar. Sebab
masyarakat Arab pra-Islam tidak mempunyai sistem pendidikan formal. Pada masa
awal perkembangan Islam, tentu saja pendidikan formal yang sistematis belum
terselenggara. Pendidikan yang berlangsung bisa dikatakan bersifat informal, dan
ini pun lebih berkaitan dengan upaya-upaya dakwah Islamiyyah, penyebaran dan
penanaman dasar-dasar kepercayaan dan ibadah Islam. Dari sini bisa diketahui kenapa
proses pendidikan Islam pertama kali berlangsung di rumah.
Setelah Muhammad saw wafat, tugas beliau selaku pemimpin agama dan
Negara dilanjutkan oleh sahabat-sahabat beliau yang dikenal dengan khulafaur
rasyidin. Pada periode inilah proses perkembangan pendidikan Islam dimulai. Para sahabat sekaligus penerus
perjuangan nabi banyak melakukan usaha agar pendidikan Islam mudah diterima
masyarakat. Khalifah yang pertama kali meneruskan jejak beliau adalah Abu Bakar
As-shiddiq.meski masa pemerintahan beliau tidak lama, namun beliau telah mampu
memberikan kontribusi besar dalam kemajuan pendidikan Islam. Dalam makalah ini,
penulis akan memaparkan tentang sejarah sosial pendidikan yang terjadi pada
masa pemerintahan khalifah Abu Bakar dengan tujuan agar pembaca bisa mengetahui
sekaligus mengambil teladan dari perjuangan para penerus dan pengikut nabi
dalam mengembangkan pendidikan Islam.
Pembahasan
1.
Biografi Khalifah Abu Bakar As-shiddiq
Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Usman (Abu Quhafah) bin Umar bin Ka’ab bin Said bin Taimi bin Murrah bin Ka’ab bin Luayyi bin Ghalib bin Fahrin Attamimi dari Suku
Qurais. Pada zaman pra Islam ia bernama Abu Ka’bah, kemudian diganti oleh Nabi SAW. menjadi Abdullah. Beliau lahir pada tahun 573 M,
usianya lebih muda dari Nabi SAW 2 tahun. Diberi julukan Abu Bakar atau pelopor
pagi hari, karena beliau termasuk orang laki-laki yang masuk Islam pertama
kali. Sedangkan gelar As-Shidiq diperoleh karena beliau senantiasa membenarkan
semua hal yang dibawa Nabi SAW terutama pada saat peristiwa Isra’ Mi’raj. [1]
Beliau adalah tokoh Islam yang paling terkemuka setelah Rasulullah
saw. Ia halus dan lemah lembut, tapi juga keras
jika dibutuhkan. Dia arif, rajin dan penuh bijaksana. Beliau adalah orang yang
sangat saleh. Dia tidak pernah mengambil atau memakan makanan haram. Perihal Akhlaqnya, menurut Ibnu Hisyam beliau terkenal sebagai seorang
pemurah, peramah, pandai bergaul dan suka menolong. Abu Bakar juga mempunyai
sifat sabar, berani, tegas, dan bijaksana. Karena kesabarannya banyak sahabat
masuk Islam karena ajakannya.[2]
2.
Kepemimpinan khalifah Abu Bakar As-shiddiq
Ditinjau dari segi politis, kepemimpinan abu bakar lebih
menguntungkan dari pada masa-masa berikutnya, disamping karena ketegasannya,
keimanan kaum muhajirin dan Ansor masih tebal karena belum lama mereka berpisah
dengan nabi. Wilayah kekuasaan Islam belum begitu luas sehingga para sahabat
masih banyak yang tinggal di madinah [3]
Akan tetapi di luar Madinah, khusunya di wilayah yang penduduknya
masih belum banyak mengenal Islam, muncullah kekacauan-kekacauan sepeninggal nabi saw. Pada masa
awal kekhalifahan Abu Bakar diguncang pemberontakan oleh orang-orang murtad,
orang-orang yang mengaku jadi nabi dan orang –orang yang enggan menunaikan
zakat. Dari sini, Abu Bakar memusatkan perhatiannya untuk memerangi para
pemberontak yang dapat mengacaukan keamanan dan mempengaruhi orang-orang Islam
yang masih lemah imannya untuk menyimpang dari ajaran Islam. Lalu dikirimlah
pasukan untuk menumpas para pemberontak itu. Dalam perang ini orang Islam
banyak yang gugur yang terdiri dari para sahabat dekat rasulullah dan sahabat yang hafal
Al-Quran.
Oleh karna itu, Umar memerintahkan kepada khalifah Abu Bakar untuk
mengumpulkan Al-Quran yang kala itu masih tertulis di pelepah kurma, kulit binatang dan batu. Lalu
Abu Bakaar memerintahkan zaid bin tsabit untuk
tugas tersebut.[4]
3.
Strategi Kepemimpinan Abu Bakar
Setelah Abu Bakar dibaiat menjadi khalifah, beliau mengemukakan
kebijaksanaan awal melalui pidato yang disampaikan di masjid Nabawi. Dalam
Pidato tersebut terkandung beberapa hal sebagai berikut;
a.
Pengangkatan dirinya sebagai khalifah bukan atas ambisi pribadi
melainkan amanat yang diberikan oleh kaum muslimin
b.
Mengakui kekurangan dan kelemahan dirinya, dalam arti beliau tidak
menyombongkan dirinya dan tidak menampakkkan kelebihannya
c.
Menjunjung tinggi kebenaran dan amanat umat
d.
Mengembalikan hak-hak yang dimiliki oleh orang-orang yang lemah
e.
Tidak merendahkan orag yang lemah dan tidak gentar menghadapi orang
yang merasa besar
f.
Membakar semangat juang di jalan Allah
g.
Menganjurkan umat untuk taat kepada Allah dan RasulNya serta kepada
dirinya selama menjalankan roda pemerintahan tidak melanggar hukum Allah dan
RasulNya
h.
Memberikan hak berpendapat untuk meegur dan memperbaki khalifah
jika berbuat salah [5]
Khalifah Abu BAkar menjalankan roda pemerintahan selama kurang
lebih 2 tahun, selama periode itu, beliau melakukan beberapa langkah;
diantaranya;
a.
Tidak melakukan mutasi jabatan bagi sahabat yag telah ditugaska
nabi dalam memangku jabata tersebut
b.
Tidak mengangkat pejabat dari keluarga sendiri
c.
Atas desakan para sahabat, khalifah berhak mendapat gaji dan
tunjangan keluarga yang diambilkan dari baitul mal
d.
Pembentukan devisi miter yang terdiri dari 11 devisi
e.
Melanjutkan program nabi untuk merutuhkan pertahanan kerajaan Bizantium
dan menertibkan pengacauan dari dalam negeri
f.
Menertibkan pembayaran zakat untuk membangun perekonomian dalam
negeri sekaligus menjalankan syariat Islam
g.
Merealisasikan usul Umar bin Khattab untuk mengumpulkan ayat-ayat
Al-Quran yang terdapat di beberapa tempat
4.
Pendidikan Islam pada masa khalifah Abu Bakar
Pola
pendidikan pada masa Abu Bakar masih seperti pada masa Nabi, baik dari segi
materi maupun lembaga pendidikannya. Berikut ini, penulis akan memaparkan secara terperinci beberapa aspek
pendidikan yang terjadi pada masa khalifah Abu Bakar . Aspek pendidikan
tersebut seperti materi pendidikan Islam, lembaga pendidikan Islam, kurikulum
pendidikan Islam, metode pendidikan Islam, dan apa saja yang terkait dengan
pendidikan.
a. Lembaga Pendidikan Islam.
1) Masjid
Masjid merupakan lembaga
pendidikan yang sudah ada sejak zaman Rasulullah. Begitu pula di masa khalifah Abu bakar.
Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, membaca Al-qur’an,masjid juga menjadi
tempat pertemuan, bersosialisasi, tempat pengadilan, dan lain sebagainya. Di
saat umat Islam menguasai suatu wilayah di luar Madinah dan Mekah, pembangunan
masjid menjadi prioritas utama sebagai tempat mengenalkan dan mengajarkan Islam
pada penduduk wilayah yang dikuasai.[7]
2) Kuttab/maktab
Para
ahli sejarah berbeda pendapat mengenai pengertian dan fungsi dari kuttab, namun
dari perbedaan tersebut bisa disimpulkan bahwa kuttab/maktab adalah lembaga
pendidikan tingkat dasar. Mahmud Yunus mengatakan sebagaimana ditulis oleh
Hanun Asrahah bahwa lembaga pendidikan dasar disamping dilaksanakan di kuttab,
juga dilaksanakan di rumah-rumah,istana, toko, serambi masjid, dan di
tempat-tempat terbuka.[8]
Menurut
Ahmad Syalabi lembaga untuk belajar membaca menulis ini disebut dengan Kuttab.
Kuttab merupakan lembaga pendidikan yang dibentuk setelah masjid, selanjutnya
Asama Hasan Fahmi mengatakan bahwa Kuttab didirikan oleh orang-orang Arab pada
masa Abu Bakar dan pusat pembelajaran pada masa ini adalah Madinah, sedangkan
yang bertindak sebagai tenaga pendidik adalah para sahabat terdekat.
Menurut
Ahmad Syalabi sebagaimana yang dituturkan oleh Samsul Nizar, bahwa kuttab sebagai
lembaga pendidikan terbagi menjadi dua:
a)
Kuttab
berfungsi mengajarkan baca tulis dengan
teks-teks dasar puisi-puisi Arab, dan sebagian besar gurunya ialah orang
nonmuslim.
b)
Kuttab
berfungsi sebagai pengajaran Al-Quran dan dasar-dasar agama Islam. Hal ini
berlangsung setelah para qurra’ dan huffazh mulai banyak. Tenaga pengajarnya
dari umat Islam sendiri[9]
3) Halaqoh
Halaqoh artinya lingkaran.lembaga
ini secara umum dikenal dengan sistem halaqoh.sistem halaqoh tidak mengenal
system klasikal. Semua umur dan jenjang berkumpul bersama untuk mendengarkan
penjelasan guru, tidak dibedakan antara usia dan jenjang pendidikannya. System
halaqoh ini juga tidak khusus dipakai
untuk mengajar atau mendiskusikan ilmu
agama, tetapi juga pengetahuan umum. [10]
4) Madrasah
Pada masa Rasulullah saw
pendidikan berpusat di Madinah. Begitu pula ketika masa Abu Bakar. Madrasah
yang terkenal pada periode ini adalah
a) Madrasah Mekah
Guru pertama yang mengajar di
Mekah setelah penaklukan Mekah adalah Muadz bin Jabal, dialah yang mengajarkan
Al-Quran, perkara yang halal dan haram dalam Islam
b) Madrasah Madinah
Madrasah
Madinah lebih masyhur dan lebih dalam ilmunya. Karena disinilah tempat khalifah
Abu Bakar dan sahabat-sahabat nabi saw tinggal. Ulama yang terkenal di Madinah
adalah: Umar bin Khattab. Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, dan Abdulllah
bin Umar. Ulama yang lama bekerja menjadi guru dan mengajarkan agama Islam
adalah Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Umar. Zaid adalah orang yang ahli
qiraat dan ahli fiqh terutama di bidang faraid. Sedangkan Abdullah bin Umar
ahli di bidang hadis.[11]
b. Materi pendidikan Islam
Materi pendidikan
islam yang diajarkan pada masa khalifah Al-Rasyidin sebelum masa Umar bin Khattab,untuk pendidikan
dasar:
1)
Membaca dan menulis
2)
Membaca dan menghafal Al-Qur’an
Samsul Nizar menambahkan materi pendidikan Islam terdiri
dari pendidikan Tauhid atau keimanan,
akhlak, ibadah, kesehatan, dan lain sebagainya.
Pendidikan keimanan,
yaitu menanamkan bahwa satu-satunya yang wajib disembahadalah Allah. Pendidikan akhlak, seperti adab masuk
rumah orang, sopan santun bertetangga, bergaul dalam masyarakat, dsb. Pendidikan ibadah seperti
pelaksanaan shalat, puasa, dan haji. Pendidikan kesehatan seperti tentang
kebersihan, seperti gerak gerik dalam shalat merupakan
didikan untuk memperkua jasmani dan ruhani[13]
c. Kurikulum Pendidikan Islam
Secara etimologis, kurikulum berasal dari bahasa Yunani, yaitu
curir yang artinya pelari dan curere yang berarti tempat berpacu .[14] Secara terminologis, para ahli telah
banyak mendefenisikan kurikulum di antaranya: Zakiah Daradjat berpendapat bahwa
kurikulum sebagai suatu program yang direncanakan dalam bidang pendidikan dan
dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan tertentu. [15] Ada juga yang
berpandangan bahwa kurikulum lebih dari sekedar rencana pelajaran tapi semua
yang secara nyata terjadi dalam proses pendidikan di sekolah atau semua
pengalaman belajar itulah kurikulum.
Samsul Nizar menyebutkan bahwa di dalam kurikulum mengandung materi
yang diajarkan secara sistematis dengan tujuan yang telah ditetapkan. Pada
hakikatnya antara materi dan kurikulum mengandung arti yang sama, yakni
bahan-bahan pelajaran yang disajikan dalam dalam proses kependidikan dalam
suatu system intitusional pendidikan.[16]
Menurut Mahmud Junus, berdasarkan Qur’an dan Hadis dapat diambil
pengertian bahwa ada 3 (tiga) aspek kepribadian
manusia yang harus dididik, yaitu: 1. Aspek jasmani, 2. Aspek akal, 3. Aspek
rohani. [17]
Dari penjelasan diatas, dapat diketahui bahwa kurikulum erat
kaitannya dengan meteri yang diajarkan. Kurikulum
Pendidikan Islam di masa Rasul saw adalah Al-Quran . sedangkan di masa Abu
Bakar adalah Al-Qurandanhadis.
d. Metode Pendidikan Islam
Metode
penyampaian ilmu pada masa nabi dan khulafa’ Rasyidin terdiri atas beberapa macam, yaitu;
1) As-Sima’(mendengar), metode ini
paling banyak efeknya karena materi yang ditulis sedikit, peserta didik
menerima informasi dengan jalan mendengarkan dari seorang guru yang
menyampaikan dengan suaranya setelah dia menghafalnya
2) Al-‘irdh(memaparkan), seorang
murid membacakan materi tertulis dihadapan gurunya
3) Al-Mudzakaroh (saling
mengingatkan), metode ini banyak dilakukan para sahabat nabi, terutama ketika
mereka menyampaikan suatu hadis atau membaca suatu ayat, mereka saling
mengingatkan antara yang satu dengan yang lain
4) As-Su’al (Tanya jawab) metode ini
banyak digunakan oleh mayoritas sahabat, mereka bertanya pada Rasul tentang apa
yang telah beliau sampaikan terkait dengan ajaran Agama.[18]
Dari berbagai metode di atas penulis bisa mencontohkan salah satu
metode diatas yang dipakai oleh Zaid bin Tsabit beserta sahabat-sahabat yang
huffadh setelah menerima perintah dari khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan
ayat-ayat Al-Quran. Walaupun Zaid telah hafal Al-Quran sepenuhnya, namun dia
masih mencocokkan kembali hafalannya dengan hafalan beberapa sahabat lain yang
hafal Al-Quran, seperti Ubay bin Ka’ab, Ali bin Abi Thalib, dan Usman bin
Affan.[19]
P ara sahabat tidak merasa
cukup dengan hafalan yang dimilikinya, mereka sangat berhati-hati jangan sampai
ada perbedaan antara sahabat yang satu dengan yang lainnya.
Kesimpulan
Dari pembahasan diatas, penulis bisa menyimpulkan bahwa pola
pendidikan pada masa Abu Bakar masih seperti
pada masa Nabi, baik dalam segi
materi maupun lembaga pendidikannya. Lembaga pendidikan Islam pada
periode ini antara lain; masjid, kuttab, halaqoh dan madrasah. Sedangkan materi
pendidikan yang diajarkan seputar pendidikan keimanan, ibadah, akhlak, dan
kesehatan. Kurikulum yang dibuat acuan adalah Al-Quran dan Hadis. Sedangkan
metode pengajaran yang dipakai antara lain; Sima’, Irdh, mudzakaroh, dan
su’al (Tanya jawab). Kontribusi besar yang dilakukan Abu Bakar
adalah kodifikasi Al-Qur’an sebagai sumber utama pendidikan Islam.
DAFTAR RUJUKAN
Al-Umry, Akrim Dhiya’. ‘Ashru Al-khilafah Al-Rasyidah,
Riyadh: Maktabah Al-‘Abikan: 1998
Asrahah, Hanun, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Logos,
1999.
Langgulung,
Hasan, Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi Pendidikan,
Jakarta : Pustaka al-Husna, 1986
Muhaimin, Kawasan Dan Wawasan Studi Islam, Jakarta: Kencana,
2007
Nizar,Samsul, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana,
2007
Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: PT
Hidakarya Agung, 1990
Zuhairini, dkk, Sejarah pendidikan Islam, Jakarta:
Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1986.
http://muhlis.files.wordpress.com/2007/08/
[2]
http://hadirukiyah.blogspot.com/2009/05/
[6] Ibid
[14] Hasan
Langgulung, Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi Pendidikan, Jakarta
: Pustaka al-Husna, 1986.hlm 176
[15] Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi
Aksara, 1992.hlm 121
[16] Samsul Nizar,
op.cit. hlm 11
[17]
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung : Remaja
Rosdakarya, 2007.hlm 56
[18] Akrim
Dhiya’ al-Umry, ‘Ashru Al-khilafah Al-Rasyidah, Riyadh: Maktabah Al-‘Abikan:
1998,hlm 283-285
[19] Zuhairini, dkk, Sejarah pendidikan Islam, Jakarta: Direktorat
Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1986. Hlm 77
Tidak ada komentar:
Posting Komentar