Jumat, 16 Februari 2018

SEJARAH SOSIAL PENDIDIKAN PADA MASA KHALIFAH ABU BAKAR


BAB I
SEJARAH SOSIAL PENDIDIKAN
PADA MASA KHALIFAH ABU BAKAR

Pendahuluan
Pendidikan mempunyai sejarah yang sangat panjang. Terlebih lagi adalah pendidikan agama Islam. Pendidikan Islam berkembang seiring dengan kemunculan Islam itu sendiri. Dalam konteks masyarakat Arab, Islam lahir dan berkembang pertama kali dibawah pengajaran seorang Rasul, pembawa risalah suci dari Ilahi, dialah Muhammad saw.  kedatangan Islam lengkap dengan usaha-usaha pendidikan merupakan transformasi besar. Sebab masyarakat Arab pra-Islam tidak mempunyai sistem pendidikan formal. Pada masa awal perkembangan Islam, tentu saja pendidikan formal yang sistematis belum terselenggara. Pendidikan yang berlangsung bisa dikatakan bersifat informal, dan ini pun lebih berkaitan dengan upaya-upaya dakwah Islamiyyah, penyebaran dan penanaman dasar-dasar kepercayaan dan ibadah Islam. Dari sini bisa diketahui kenapa proses pendidikan Islam pertama kali berlangsung di rumah.
Setelah Muhammad saw wafat, tugas beliau selaku pemimpin agama dan Negara dilanjutkan oleh sahabat-sahabat beliau yang dikenal dengan khulafaur rasyidin. Pada periode inilah proses perkembangan pendidikan  Islam dimulai. Para sahabat sekaligus penerus perjuangan nabi banyak melakukan usaha agar pendidikan Islam mudah diterima masyarakat. Khalifah yang pertama kali meneruskan jejak beliau adalah Abu Bakar As-shiddiq.meski masa pemerintahan beliau tidak lama, namun beliau telah mampu memberikan kontribusi besar dalam kemajuan pendidikan Islam. Dalam makalah ini, penulis akan memaparkan tentang sejarah sosial pendidikan yang terjadi pada masa pemerintahan khalifah Abu Bakar dengan tujuan agar pembaca bisa mengetahui sekaligus mengambil teladan dari perjuangan para penerus dan pengikut nabi dalam mengembangkan pendidikan Islam.

Pembahasan
1.      Biografi Khalifah Abu Bakar As-shiddiq
Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Usman (Abu Quhafah) bin Umar bin Ka’ab bin Said bin Taimi bin Murrah bin Ka’ab bin Luayyi bin Ghalib bin Fahrin Attamimi dari Suku Qurais. Pada zaman pra Islam ia bernama Abu Ka’bah, kemudian diganti oleh Nabi SAW. menjadi Abdullah. Beliau lahir pada tahun 573 M, usianya lebih muda dari Nabi SAW 2 tahun. Diberi julukan Abu Bakar atau pelopor pagi hari, karena beliau termasuk orang laki-laki yang masuk Islam pertama kali. Sedangkan gelar As-Shidiq diperoleh karena beliau senantiasa membenarkan semua hal yang dibawa Nabi SAW terutama pada saat peristiwa Isra’ Mi’raj. [1]
Beliau adalah tokoh Islam yang paling terkemuka setelah Rasulullah saw. Ia halus dan lemah lembut, tapi juga keras jika dibutuhkan. Dia arif, rajin dan penuh bijaksana. Beliau adalah orang yang sangat saleh. Dia tidak pernah mengambil atau memakan makanan haram. Perihal Akhlaqnya, menurut Ibnu Hisyam beliau terkenal sebagai seorang pemurah, peramah, pandai bergaul dan suka menolong. Abu Bakar juga mempunyai sifat sabar, berani, tegas, dan bijaksana. Karena kesabarannya banyak sahabat masuk Islam karena ajakannya.[2]

2.      Kepemimpinan khalifah Abu Bakar As-shiddiq
Ditinjau dari segi politis, kepemimpinan abu bakar lebih menguntungkan dari pada masa-masa berikutnya, disamping karena ketegasannya, keimanan kaum muhajirin dan Ansor masih tebal karena belum lama mereka berpisah dengan nabi. Wilayah kekuasaan Islam belum begitu luas sehingga para sahabat masih banyak yang tinggal di madinah [3]
Akan tetapi di luar Madinah, khusunya di wilayah yang penduduknya masih belum banyak mengenal Islam, muncullah kekacauan-kekacauan sepeninggal nabi saw. Pada masa awal kekhalifahan Abu Bakar diguncang pemberontakan oleh orang-orang murtad, orang-orang yang mengaku jadi nabi dan orang –orang yang enggan menunaikan zakat. Dari sini, Abu Bakar memusatkan perhatiannya untuk memerangi para pemberontak yang dapat mengacaukan keamanan dan mempengaruhi orang-orang Islam yang masih lemah imannya untuk menyimpang dari ajaran Islam. Lalu dikirimlah pasukan untuk menumpas para pemberontak itu. Dalam perang ini orang Islam banyak yang gugur yang terdiri dari para sahabat dekat rasulullah dan sahabat yang hafal Al-Quran.
Oleh karna itu, Umar memerintahkan kepada khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan Al-Quran yang kala itu masih tertulis di pelepah kurma, kulit binatang dan batu. Lalu Abu Bakaar memerintahkan zaid bin tsabit untuk  tugas tersebut.[4]

3.      Strategi Kepemimpinan Abu Bakar
Setelah Abu Bakar dibaiat menjadi khalifah, beliau mengemukakan kebijaksanaan awal melalui pidato yang disampaikan di masjid Nabawi. Dalam Pidato tersebut terkandung beberapa hal sebagai berikut;
a.       Pengangkatan dirinya sebagai khalifah bukan atas ambisi pribadi melainkan amanat yang diberikan oleh kaum muslimin
b.      Mengakui kekurangan dan kelemahan dirinya, dalam arti beliau tidak menyombongkan dirinya dan tidak menampakkkan kelebihannya
c.       Menjunjung tinggi kebenaran dan amanat umat
d.      Mengembalikan hak-hak yang dimiliki oleh orang-orang yang lemah
e.       Tidak merendahkan orag yang lemah dan tidak gentar menghadapi orang yang merasa besar
f.       Membakar semangat juang di jalan Allah
g.       Menganjurkan umat untuk taat kepada Allah dan RasulNya serta kepada dirinya selama menjalankan roda pemerintahan tidak melanggar hukum Allah dan RasulNya
h.      Memberikan hak berpendapat untuk meegur dan memperbaki khalifah jika berbuat salah [5]
Khalifah Abu BAkar menjalankan roda pemerintahan selama kurang lebih 2 tahun, selama periode itu, beliau melakukan beberapa langkah; diantaranya;
a.       Tidak melakukan mutasi jabatan bagi sahabat yag telah ditugaska nabi dalam memangku jabata tersebut
b.      Tidak mengangkat pejabat dari keluarga sendiri
c.       Atas desakan para sahabat, khalifah berhak mendapat gaji dan tunjangan keluarga yang diambilkan dari baitul mal
d.      Pembentukan devisi miter yang terdiri dari 11 devisi
e.       Melanjutkan program nabi untuk merutuhkan pertahanan kerajaan Bizantium dan menertibkan pengacauan dari dalam negeri
f.       Menertibkan pembayaran zakat untuk membangun perekonomian dalam negeri sekaligus menjalankan syariat Islam
g.       Merealisasikan usul Umar bin Khattab untuk mengumpulkan ayat-ayat Al-Quran yang terdapat di beberapa tempat
h.      Pelimpahan jabatan khalifah secara tertulis kepada khalifah berikutnya[6]

4.      Pendidikan Islam pada masa khalifah Abu Bakar
Pola pendidikan pada masa Abu Bakar masih seperti pada masa Nabi, baik dari segi materi maupun lembaga pendidikannya. Berikut ini, penulis akan memaparkan secara terperinci beberapa aspek pendidikan yang terjadi pada masa khalifah Abu Bakar . Aspek pendidikan tersebut seperti materi pendidikan Islam, lembaga pendidikan Islam, kurikulum pendidikan Islam, metode pendidikan Islam, dan apa saja yang terkait dengan pendidikan.
a.      Lembaga Pendidikan Islam.
1)   Masjid
Masjid merupakan lembaga pendidikan yang sudah ada sejak zaman Rasulullah. Begitu pula di masa khalifah Abu bakar. Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, membaca Al-qur’an,masjid juga menjadi tempat pertemuan, bersosialisasi, tempat pengadilan, dan lain sebagainya. Di saat umat Islam menguasai suatu wilayah di luar Madinah dan Mekah, pembangunan masjid menjadi prioritas utama sebagai tempat mengenalkan dan mengajarkan Islam pada penduduk wilayah yang dikuasai.[7]
2)   Kuttab/maktab
Para ahli sejarah berbeda pendapat mengenai pengertian dan fungsi dari kuttab, namun dari perbedaan tersebut bisa disimpulkan bahwa kuttab/maktab adalah lembaga pendidikan tingkat dasar. Mahmud Yunus mengatakan sebagaimana ditulis oleh Hanun Asrahah bahwa lembaga pendidikan dasar disamping dilaksanakan di kuttab, juga dilaksanakan di rumah-rumah,istana, toko, serambi masjid, dan di tempat-tempat terbuka.[8]
Menurut Ahmad Syalabi lembaga untuk belajar membaca menulis ini disebut dengan Kuttab. Kuttab merupakan lembaga pendidikan yang dibentuk setelah masjid, selanjutnya Asama Hasan Fahmi mengatakan bahwa Kuttab didirikan oleh orang-orang Arab pada masa Abu Bakar dan pusat pembelajaran pada masa ini adalah Madinah, sedangkan yang bertindak sebagai tenaga pendidik adalah para sahabat terdekat.
Menurut Ahmad Syalabi sebagaimana yang dituturkan oleh Samsul Nizar, bahwa kuttab sebagai lembaga pendidikan terbagi menjadi dua:
a)        Kuttab berfungsi mengajarkan baca tulis dengan  teks-teks dasar puisi-puisi Arab, dan sebagian besar gurunya ialah orang nonmuslim.
b)        Kuttab berfungsi sebagai pengajaran Al-Quran dan dasar-dasar agama Islam. Hal ini berlangsung setelah para qurra’ dan huffazh mulai banyak. Tenaga pengajarnya dari umat Islam sendiri[9]

3)   Halaqoh
Halaqoh artinya lingkaran.lembaga ini secara umum dikenal dengan sistem halaqoh.sistem halaqoh tidak mengenal system klasikal. Semua umur dan jenjang berkumpul bersama untuk mendengarkan penjelasan guru, tidak dibedakan antara usia dan jenjang pendidikannya. System halaqoh ini  juga tidak khusus dipakai untuk mengajar atau mendiskusikan  ilmu agama, tetapi juga pengetahuan umum. [10]
4)   Madrasah
Pada masa Rasulullah saw pendidikan berpusat di Madinah. Begitu pula ketika masa Abu Bakar. Madrasah yang terkenal pada periode ini adalah
a)    Madrasah Mekah
Guru pertama yang mengajar di Mekah setelah penaklukan Mekah adalah Muadz bin Jabal, dialah yang mengajarkan Al-Quran, perkara yang halal dan haram dalam Islam
b)   Madrasah Madinah
Madrasah Madinah lebih masyhur dan lebih dalam ilmunya. Karena disinilah tempat khalifah Abu Bakar dan sahabat-sahabat nabi saw tinggal. Ulama yang terkenal di Madinah adalah: Umar bin Khattab. Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, dan Abdulllah bin Umar. Ulama yang lama bekerja menjadi guru dan mengajarkan agama Islam adalah Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Umar. Zaid adalah orang yang ahli qiraat dan ahli fiqh terutama di bidang faraid. Sedangkan Abdullah bin Umar ahli di bidang hadis.[11]

b.      Materi pendidikan Islam
Materi pendidikan islam yang diajarkan pada masa khalifah Al-Rasyidin sebelum masa Umar bin Khattab,untuk pendidikan dasar:
1)      Membaca dan menulis
2)      Membaca dan menghafal Al-Qur’an
3)      Pokok-pokok agama islam, seperti cara wudlu, shalat, shaum dan sebagainya[12]
Samsul Nizar menambahkan  materi pendidikan Islam terdiri dari  pendidikan Tauhid atau keimanan, akhlak, ibadah, kesehatan, dan lain sebagainya.
Pendidikan keimanan, yaitu menanamkan bahwa satu-satunya yang wajib disembahadalah Allah. Pendidikan akhlak, seperti adab masuk rumah orang, sopan santun bertetangga, bergaul dalam masyarakat, dsb. Pendidikan ibadah seperti pelaksanaan shalat, puasa, dan haji. Pendidikan kesehatan seperti tentang kebersihan, seperti gerak gerik dalam shalat merupakan didikan untuk memperkua jasmani dan ruhani[13]

c.       Kurikulum Pendidikan Islam
Secara etimologis, kurikulum berasal dari bahasa Yunani, yaitu curir yang artinya pelari dan curere yang berarti tempat berpacu .[14] Secara terminologis, para ahli telah banyak mendefenisikan kurikulum di antaranya: Zakiah Daradjat berpendapat bahwa kurikulum sebagai suatu program yang direncanakan dalam bidang pendidikan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan tertentu. [15] Ada juga yang berpandangan bahwa kurikulum lebih dari sekedar rencana pelajaran tapi semua yang secara nyata terjadi dalam proses pendidikan di sekolah atau semua pengalaman belajar itulah kurikulum.
Samsul Nizar menyebutkan bahwa di dalam kurikulum mengandung materi yang diajarkan secara sistematis dengan tujuan yang telah ditetapkan. Pada hakikatnya antara materi dan kurikulum mengandung arti yang sama, yakni bahan-bahan pelajaran yang disajikan dalam dalam proses kependidikan dalam suatu system intitusional pendidikan.[16]
Menurut Mahmud Junus, berdasarkan Qur’an dan Hadis dapat diambil pengertian bahwa ada 3 (tiga) aspek kepribadian manusia yang harus dididik, yaitu: 1. Aspek jasmani, 2. Aspek akal, 3. Aspek rohani. [17]
Dari penjelasan diatas, dapat diketahui bahwa kurikulum erat kaitannya dengan meteri yang diajarkan. Kurikulum Pendidikan Islam di masa Rasul saw adalah Al-Quran . sedangkan di masa Abu Bakar adalah Al-Qurandanhadis.

d.      Metode Pendidikan Islam
Metode penyampaian ilmu pada masa nabi dan khulafa’ Rasyidin terdiri atas beberapa macam, yaitu;
1)      As-Sima’(mendengar), metode ini paling banyak efeknya karena materi yang ditulis sedikit, peserta didik menerima informasi dengan jalan mendengarkan dari seorang guru yang menyampaikan dengan suaranya setelah dia menghafalnya
2)      Al-‘irdh(memaparkan), seorang murid membacakan materi tertulis dihadapan gurunya
3)      Al-Mudzakaroh (saling mengingatkan), metode ini banyak dilakukan para sahabat nabi, terutama ketika mereka menyampaikan suatu hadis atau membaca suatu ayat, mereka saling mengingatkan antara yang satu dengan yang lain
4)      As-Su’al (Tanya jawab) metode ini banyak digunakan oleh mayoritas sahabat, mereka bertanya pada Rasul tentang apa yang telah beliau sampaikan terkait dengan ajaran Agama.[18]
Dari berbagai metode di atas penulis bisa mencontohkan salah satu metode diatas yang dipakai oleh Zaid bin Tsabit beserta sahabat-sahabat yang huffadh setelah menerima perintah dari khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan ayat-ayat Al-Quran. Walaupun Zaid telah hafal Al-Quran sepenuhnya, namun dia masih mencocokkan kembali hafalannya dengan hafalan beberapa sahabat lain yang hafal Al-Quran, seperti Ubay bin Ka’ab, Ali bin Abi Thalib, dan Usman bin Affan.[19]
P ara sahabat tidak merasa cukup dengan hafalan yang dimilikinya, mereka sangat berhati-hati jangan sampai ada perbedaan antara sahabat yang satu dengan yang lainnya.

Kesimpulan
Dari pembahasan diatas, penulis bisa menyimpulkan bahwa pola pendidikan pada masa Abu Bakar masih seperti  pada masa Nabi, baik dalam segi  materi maupun lembaga pendidikannya. Lembaga pendidikan Islam pada periode ini antara lain; masjid, kuttab, halaqoh dan madrasah. Sedangkan materi pendidikan yang diajarkan seputar pendidikan keimanan, ibadah, akhlak, dan kesehatan. Kurikulum yang dibuat acuan adalah Al-Quran dan Hadis. Sedangkan metode pengajaran yang dipakai antara lain; Sima’, Irdh, mudzakaroh, dan su’al (Tanya jawab). Kontribusi besar yang dilakukan Abu Bakar adalah kodifikasi Al-Qur’an sebagai sumber utama pendidikan Islam.

DAFTAR RUJUKAN

Al-Umry, Akrim Dhiya’. ‘Ashru Al-khilafah Al-Rasyidah, Riyadh: Maktabah Al-‘Abikan: 1998
Asrahah, Hanun, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Logos, 1999.
Langgulung, Hasan, Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi Pendidikan, Jakarta : Pustaka al-Husna, 1986
Muhaimin, Kawasan Dan Wawasan Studi Islam, Jakarta: Kencana, 2007
Nizar,Samsul, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2007
Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: PT Hidakarya Agung, 1990
Zuhairini, dkk, Sejarah pendidikan Islam, Jakarta: Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1986.
http://muhlis.files.wordpress.com/2007/08/


[1] http://muhlis.files.wordpress.com/2007/08/
[2] http://hadirukiyah.blogspot.com/2009/05/
[3] Muhaimin, Kawasan Dan Wawasan Studi Islam, Jakarta: Kencana, 2007.hlm.241
[4] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2007.hlm 44-45
[5] Ibid. hlm 242
[6] Ibid
[7] Hanun Asrahah, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Logos, 1999. Hlm 56
[8] Ibid. hlm 48
[9] Samsul Nizar, op.cit. hlm 7-8
[10] Hanun Asrahah. Op.cit. hlm 50
[11] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: PT Hidakarya Agung, 1990. Hlm 34
[12] Ibid
[13] Samsul Nizar, 0p.cit. hlm 45
[14] Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi Pendidikan, Jakarta : Pustaka al-Husna, 1986.hlm 176
[15] Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 1992.hlm 121
[16] Samsul Nizar, op.cit. hlm 11
[17] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung : Remaja Rosdakarya, 2007.hlm 56
[18] Akrim Dhiya’ al-Umry, ‘Ashru Al-khilafah Al-Rasyidah, Riyadh: Maktabah Al-‘Abikan: 1998,hlm 283-285
[19] Zuhairini, dkk, Sejarah pendidikan Islam, Jakarta: Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1986. Hlm 77

Tidak ada komentar:

Posting Komentar