ABSTRAK
Al-Ghazali
adalah seorang ulama besar yang ingin memperbaiki kondisi keberagaman melalui
gerakan-gerakan intelektual. Gerakan intelektuanya berusaha membangun paradigma
ilmuwan yang paripurna, yakni berilmu sekaligus beramal. Al-Quran menyatakan
bahwa ilmu yang diperolehnya itu tidak cukup dari hasil kerja rasional dan
logikal (metode ilmiah), tetapi juga dari proses kasyf dan ma’rifah (dalam tasawuf disebut
metode irfani).
Gagasan
al-Ghazali tentang pendidikan ini dilatarbelakangi oleh situasi yang
menyebabkan merosotnya moral agama, lantaran dasar-dasar pendidikan telah
keluar dari konsep –konsep agama, terutama anggapan terhadap manusia sebagai
makhluk liberal-individualistik, rasional mutlak dan sekularisme, sehingga
fungsi pendidikan hanya bersifat keduniaan, materialis tanpa idealis, dunia
tanpa akhirat.
Keadaan
masyarakat bahkan ulama yang demikian ini sangat menyedihkan sehingga harus
segera mendapatkan terapi rehabilitasi moral agama. Dalam rangka terapi dan
rehabilitasi itu, al-ghazali menulis karya-karya intelektualnya, yang
diantaranya ialah karyanya yang monumental Ihya’ Ulumuddin.
Tesis
ini merupakan penelitian pemikiran dan konsep-konsep yang digagas oleh
al-Ghazali khususnya tentang pendidikan. Bagaimana pandangan al-Ghazali
terhadap hakikat manusia sebagai pelaku pendidik dan terdidik. Bagaimana konsep
dasar Pendidikan Islam al-Ghazali. Bagaimana teori Pendidikan Islam al-Ghazali
dikaji secara filosofis.
Adapun
tujuan yang ingin dicapai dalam tesis ini adalah untuk mengetahui pandangan
al-Ghazali terhadap hakikat manusia sebagai pelaku pendidik dan terdidik. Untuk
menganalisa konsep dasar pendidikan al-Ghazali berperan dalam dunia pendidikan.
Untuk menganalisa konsep al-Ghazali dari sudut pandang filosofis dan adanya
kemungkinan alternatif bagi penerapan teori pendidikan al-Ghazali dengan
pemikiran filosofisnya.
Dalam
penelitian ini menggunakan metode library research berupa pola deduktif,
induktif, dan komparatif dengan analisis hermeneutik analisis isi (content
analysis) yang kesemuanya bertolak dari dasar pemikiran filosofis.
Dalam
sistem pendidikan Islam tidak dikenal pendidikan agama dan pendidikan umum
tanpa mengkaitkan keduanya. Tidak ada istilah ilmu akliyah tanpa
mengikutsertakan ilmu syariah, tidak mengembangkan kognitif kecuali afektif dan
psikomotorik sekaligus. Dengan empat potensi nafs, qalb, roh, dan aql yang ada
pada diri manusia sebagai argumentasi membuat pandangan tentang manusia yang
berbeda, lebih konkrit dan realistis.
Pembahasan
al-Ghazali tentang manusia ada beberapa segi yang dapat dilihat sebagian dari
pandangan logika bahwa diri manusia pada hakikatnya adalah terbesar terletak pada
sifat metafisiknya, bukan fisiknya.
Keberhasilan
dan kegagalan suatu proses pendidikan secara umum dapat dilihat dari
out-putnya, yakni orang-orang sebagai produk pendidikan. Bila pendidikan
menghasilkan oang-orang yang dapat bertanggungjawab atas tugas-tugas ketuhanan,
bertindak lebih bermanfaat baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain,
pendidikan tersebut dapat dikatakan berhasil. Sebaliknya, bila outputnya adalah
orang-orang yang tidak mampu melaksanakan tugas hidupnya, pendidikan tersebut
mengalami kegagalan.
Analisis
Abstrak adalah
ringkasan dari isi penelitian yang dituangkan secara singkat dan padat. Dengan
membaca abstrak diharapkan pembaca dapat memperoleh gambaran umum dari hasil
penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti. Untuk itu, dalam abstrak
disajikan secara singkat dan padat tentang latar belakang masalah, rumusan
masalah dan atau tujuan penelitian, metode penelitian yang digunakan, hasil dan
temuan penelitian yang diperoleh, kesimpulan yang ditarik, dan jika ada, saran
yang diajukan.[1]
Mengacu
pada hal tersebut, kami memandang bahwa abstraksi yang dilakukan peneliti sudah
memenuhi kriteria-kriteria pembuatan abstrak yang benar. Peneliti telah
menyinggung siapa Al-Ghazali dan mengapa ia banyak memberikan sumbangsihnya
pada dunia pendidikan. Peneliti juga telah menjelaskan mengenai jenis metode
penelitian yang digunakannya, yaitu library research. Namun kemudian,
pada akhir dari penulisan abstraksi ini, peneliti tidak secara jelas mengungkap
hasil dari penelitiannya. Peneliti hanya mengungkap hakikat manusia menurut
al-Ghazali,
padahal rumusan masalah yang diangkat adalah konsep-konsep
yang digagas oleh al-Ghazali khususnya tentang pendidikan, konsep dasar Pendidikan
Islam al-Ghazali,
teori Pendidikan Islam al-Ghazali dikaji secara filosofis. Selain itu, peneliti juga tidak mencantumkan key
words atau kata kunci dalam abstraksi ini.
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Dalam rangka
pencapaian kehidupan manusia baik yang bersifat individu maupun masyarakat,
pendidikan adalah suatu hal yang mutlak harus ada, oleh karena itu, Islam yang
ajarannya bertujuan untuk kemaslahatan manusia menjadikan pendidikan sebagai
salah satu aspek ajarannya, bahkan menempati peran yang sangat menentukan. Hal
ini bisa dimaklumi karena agama pada dasarnya adalah suatu ajaran yang
disampaikan oleh para penyerunya kepada umat manusia, tentu saja hal itu dengan
cara penanaman ajaran agama itu pada umatnya. Penanaman suatu ajaran tentu
melalui suatu proses dan proses penanaman itu sendiri ke dalam diri manusia
adalah salah satu batasan yang diberikan para ahli trhadap pendidikan.
Sebenarnya
Sejarah Pendidikan Islam telah menampilkan pakar pendidikan muslim yang cukup
handal yang membahas masalah pendidikan dalam Islam, seperti al-Ghozali (W. 111
M), Ibnu Sina (W.1228 M), Ibnu Kholdun (W. 1405 M), dan para pakar pendidikan
muslim lainnya, namun ide-ide mereka yang tertuang dalam karya-karya mereka di
abad modern ini sangat sedikit mendapat perhatian dari pakar pendidikan muslim.
Al-Ghozali (450
H/1054 M – 505 H/111 M) sebagaimana disebutkan di atas adalah salah seorang
pakar pendidikan Islam yang cukup besar andilnya dalam dunia pendidikan Islam.
Namun ide-idenya yang tertuang dalam karya-karyanya berupa tulisan-tulian
mengenai pendidikan masih sangat kurang mendapatkan perhatian dari para pakar
pendidikan khususnya pakar pendidikan Islam. Padahal al-Ghazali lebih banyak
memberikan perhatiannya di dalam hidupnya untuk ilmu pengetahuan, baik sebagai
penuntut ilmu maupun sebagai pendidik. Ide-idenya banyak tentang pendidikan
banyak dijumpai dalam tulisan-tulisannya seperti di dalam Ihya ‘Ulumuddin,
Al-Munqidzu min al-Dhalal, Ayyuha al-Walad dan beberapa karya lainnya.
Akhir-akhir ini
telah bermunculan usaha dari pakar pendidikan yang mencoba membahas ide-ide
al-Ghazali tentang pendidikan, myang diambil dari karya-karyanya tersebut di
atas. Mungkin yang membahas pertama kali ke arah ini dan menuangkannya ke dalam
buku adalah Prof. Fathiyah Hasan Sulaiman, seorang guru besar dalam bidang
Pendidikan dan Sejarah pada Universitas ‘Ain Syam, Mesir dengan judul Madzahibu
Fi al-Tarbiyah Bahtsun Fi al-Madzahibi al-Tarbawiyyi ‘Inda al-Ghazali.
Begitu banyaknya penggemar buku ini hingga harus dilakukan pencetakan ulang
beberapa kali. Di Indonesia pun karya tersebut diterjemahkan, paling tidak ada
tiga judul yang berbeda, yakni: “Konsep Pendidikan Al-Ghazali” oleh Ahmad Hakim
dan M. Imam Aziz, “Alam Pikiran al-Ghazali mengenai Pendidikan dan Ilmu” oleh
Herry Noer Ali, “Al-Ghazali dan Plato dalam Aspek pendidikan (suatu studi) oleh
H.M.Mochtar Zoerni dan Baihaqqi Syafiuddin”.
Namun kemudian,
dalam memberikan pengantar pada salah satu buku terjemahan tersebut, Prof. Dr.
Hasan Langgulung mengomentari bahwa sebenarnya apa yang dihasilkan oleh
Fathiyah tentang pendidikan tidak secara utuh, dalam hal ini hanya menyangkut
aspek kurikulum. Jadi menurutnya buku ini cukup diberi judul “Kurikulum
Pendidikan Islam menurut Versi al-Ghazali” atau “Manhaj al-Tarbiyah
al-Islamiyah ‘Inda al-Ghazali”.
Dari usaha di
atas nampak keterbatasan hasil kajian yang mengkaji karya-karya al-Ghazali
tentang pendidikan. Apakah memang hanya aspek ini yang ada pada karya-karyanya
tentang pendidikan?.
Analisis:
Pada bagian latar
belakang hendaknya peneliti memaparkan/ mengemukakan adanya harapan/idealitas/das sein/apa yang seharusnya terjadi dan juga memaparkan
bagaimana fakta/fenomena yang ada/ das sollen/ apa yang sesungguhnya terjadi, sehingga
ditemukan gap/kesenjangan atau masalah.[2]
Peneliti
telah membuat latar belakang dengan baik dimana peneliti telah menggambarkan
tentang beberapa karya al-Ghazali yang menurutnya itu merupakan keunikan dari
konsep al-Ghazali tentang pendidikan yang tertuang dalam karya al-Ghazali
tersebut sehingga peneliti merasa tertarik untuk meneliti dalam hal menanalisis
konsep pendidikan menurut al-Ghazali.
B. Rumusan
Masalah
Pembahasan
masalah dalam tesis ini berkisar pada masalah pemikiran al-Ghazali yang
berkaitan dengan bidang pendidikan, bila tanpa batasan maka pengertiannya akan
sangat luas sekali, oleh sebab itu agar tidak berkembang ke arah yang tidak
diinginkan dan lebih mudah dipahami, maka perlu kiranya diberi batasan masalah,
yang bermuatan pengkajian tentang pemikiran pendidikan al-Ghozali ditinjau dari
filosofis sebagai berikut:
Kajian yang
berkaitan dengan pendidikan menurut al-Ghazali diarahkan dan dibatasi pada: 1)
pandangan tentang manusia, 2) konsep dasar pendidikan, 3) sistem pendidikan, 4)
orientasi dan wawasan, 5) tujuan pendidikan, 6) metodologi, 7) teori
pendidikan, dan 8) perspekrif pendidikan.
Kajian yang
berkaitan dengan studi analisis teori pendidikan pemikiran filosofi, al-Ghazali
serta kesesuaian degnan ayat-ayat al-Quran dan Hadis yang mendasarinya akan
melahirkan beberapa pokok masalah yang perlu pemecahan, antara lain 1)
bagaimana pandangan al-Ghazali terhadap manusia, 2) bagaimana konsep dasar
pendidikan Islam al-Ghazali, dan 3) bagaimana teori pendidikan Islam al-Ghazali
dikaji secara filosofis.
Analisis:
Dalam penulisan perumusan masalah ini peneliti
sudah tepat mengungkapkan fokus permasalahan yang akan di bahas dalam
tulisannya, meski di awali dengan bentuk pernyataan sebagai batasan maslah
kemudian diikuti pertanyaan sebagai rumusan masalah, karena penyataan dan
pernyataan di atas telah mewakili sub bahasan tentang konsep pendidikan menurut
al-Ghazali yang peneliti kritisi.
C. Tujuan
dan Kegunaan Penelitian
Tujuan Penelitian:
1. Untuk
mengetahui pandangan al-Ghazali terhadap hakikat manusia sebagai pelaku
pendidik dan terdidik.
2. Untuk
menganalisa konsep dasar pendidikan al-Ghazali berperan dalam dunia pendidikan,
terutama jika ditinjau dari sudut pandang, mengenai manusia, konsep dasar
pendidikan, sistem pendidikan, wawasan pendidikan, metodologi pendidikan dan
perspektif pendidikan menurut al-Ghazali.
3. Untuk
menganalisa konsep pendidikan al-Ghazali dari sudut pandang filosofis dan
kemungkinan alternatif bagi penerapan teori pendidikan al-Ghazali dengan
pemikiran filosofisnya.
Dengan demikian
maka hasil penelitian ini diharapkan dapat menemukan beberapa hal yang berguna
untuk:
Memberi masukan
dan informasi tentang hakikat manusia dan keharusan adanya pendidikan, sehingga
dapat dimanfaatkan bagi siapa saja yang berkesesuaian dengan masalah ini.
Sebagai bahan
untuk penelitian lebih lanjut, dengan mengembangkan lebih khusus dalam bidang
pendidikan Islam.
Menumbuhkan
inovasi baru dalam teori pendidikan yang kemungkinannya dapat lebih menumbuh
kembangkan penerapan sistem pendidikan yang lebih baik.
Analisis:
Sudah sesuai
karena tujuan penelitian telah ditulis secara jelas dan konsisten dengan apa
yang dikemukakan rumusan masalah. Sebagaimana dijelaskan bahwa tujuan
penelitian pada dasarnya adalah memecahkan masalah yang telah dirumuskan.
Implikasinya, masalah perlu dirumuskan terlebih dahulu bukan sebaliknya.[3]
Tujuan penelitian yang peneliti tulis telah tepat
menjawab pertanyaan dalam rumusan masalah di atas, disamping menjawap
pertanyaaan peneliti juga mengimbuhi dengan penjelasan yang tepat shingga para
pembacanya tesis ini lebih mudah dalam mencerna apa permasalah yang di angkat
oleh peneliti tersebut.
Pada bagian
kegunaan penelitian, peneliti telah memaparkan secara spesifik
kegunaan-kegunaan yang didapatkan dengan adanya kegiatan penelitian yang
dilakukannya, khususnya bagi peneliti, pengembangan ilmu, dan pihak-pihak lain
yang berkepentingan dengan proyek penelitian.
D. Kajian Pustaka
Sebelumnya telah
banyak kajian-kajian para peneliti tentang pemikiranya. Seperti antara lain
beberapa karya sebagai berikut: konsep Ilmu menurut al-Ghazali oleh M. Basri
Ghazali, Konsep Guru al-Ghazali ditulis oleh Imam Syafi’i, Pokok-Pokok Pikiran
al-Ghazali tentang Pendidikan suatu tinjauan Sistemik ditulis oleh M. Hatta,
Seluk-Beluk Pendidikan dari al-Ghazali ditulis oleh Zainuddin. Besar
kemungkinannya masih banyak lagi, namun yang jelas penelitian yang berorientasi
pada Konsep pemikiran Pendidikan Islam menurut al-Ghazali; Suatu Telaah Kritis
dalam Perspektif Filosofis belum ada.
Dengan adanya
rasa keyakinan dan kemantapan sebagaimana tersebut diatas maka penelitian ini
dilakukan, lebih dari itu dengan penuh harap penulisan tesis ini dapat menjadi
pelengkap penelitian yang sudah ada, serta kiranya dapat memberikan informasi
penting yang perlu diketahui bahwa selain al-Ghazali termasyhur sebagai ulama
besar Islam, seorang filosof besar yang kritis, sebagai seorang sufi, seorang
fuqaha’ sekaligus sebagai seorang yang penuh perhatian terhadap Pendidikan
Islam.
Analisis:
Pada
sub kajian pustaka ini, peneliti telah menyebutkan beberapa penelitian
terdahulu yang juga mengkaji tentang pemikiran al-Ghazali. Hal ini dilakukan
untuk menunjukkan bahwa penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah
benar-benar penelitian baru dan belum pernah ada peneliti lain yang membahas
tema penelitian ini. Peneliti juga berusaha menunjukkan siginifikansi
penelitian yang dilakukannya yang berbeda dengan penelitian terdahulu. Namun,
peneliti tidak secara detail menjelaskan pokok pikiran ataupun isi yang dibahas
oleh beberapa penelitian terdahulu tersebut.
Menurut
penganalisis, peneliti seharusnya mendeskripsikan secara singkat dan jelas
masing-masing dari beberapa penelitian terdahulu sehingga tampak jelas letak
perbedaan dengan penelitian yang dilakukannya. Sehingga urgensitas dan
signifikansi dari penelitian yang dilakukan benar-benar terlihat dalam point
ini dan bukan sekedar plagiasi terhadap penelitian terdahulu dan bisa diakui
sebagai penelitian baru.
E. Metodologi
Penelitian
Metode yang
digunakan dalam pembahasannya menggunakan metode-metode yang lazim digunakan
dalam library research berupa pola pikir deduktif, induktif dan
komparatif yang ke semuanya itu bertolak dari dasar pemikiran filosofis.
Untuk mengungkap
semua itu, langkah pertama perhatian dipusatkan kepada penelitian kepustakaan.
Oleh karena itu sesuai dengan rumusan masalah yang dikedepankan diatas, maka
upaya yang dilakukan adalah menghimpun data dari buku-buku teks yang terkait
dengan permasalahan.
Data primer
diambil dari karya al-Ghazali yang Ihya’ ulumuddin, sedangkan data
sekunder diambil dari judul Al-Tarbiyyatu ‘inda al-Ghazali dan dari
buku-buku yang ditulis oleh sejarawan lain.
Dalam rangka
untuk menyempurnakan analisis data digunakan analisis isi (content analysis)
dengan analisis hermeneutik. Penggunaan analisis hermeneutik dilakukan dengan
harapan tidak hanya dapat mengetengahkan pikiran-pikiran yang tersurat tetapi
juga mengungkapkan ide-ide yang tersirat.
Analisis
Peneliti telah menggunakan jenis penelitian yang
benar, yaitu library research. Akan tetapi peneliti tidak menyebutkan
pendekatan penelitan yang digunakan, yang dalam hal ini adalah kualitatif.
Library research atau studi literatur
adalah kegiatan yang meliputi mencari secara teratur, melokalisasi, dan
menganalisis dokumen yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti.
Dokumen itu bisa berupa teori-teori dan bisa pula hasil-hasil penelitian yang
telah dilakukan mengenai permasalahan yang berkaitan dengan permasalahan yang
akan diteliti.[4]
Peneliti juga telah menyebutkan data primer dan
sekunder dalam penelitian ini, yaitu kitab Ihya’ Ulumuddin sebagai data
primer dan Al-Tarbiyyatu ‘Inda al-Ghazali serta buku-buku lain sebagai data
sekunder. Maka
dalam hal ini metode yang digunakan peneliti sudah tepat dalam menggali konsep
pendidikan yang tersembunyi didalam karya al-Ghazali.
Adapun teknik analisis yang digunakan oleh peneliti
adalah jenis content analisis dengan menggunakan analisis hermeneutik.
Hal ini telah sesuai, karena pada dasarnya peneliti menyebutkan bahwa dalam Ihya
‘Ulumuddin, sebagai data primer, tidak dijelaskan secara eksplisit mengenai
konsep pendidikan secara utuh, sehingga peneliti harus menggali dan menganalisisnya.
Pada dasarnya penelitian ini juga menggunakan
pendekatan filosofis dalam analisisnya, tetapi peneliti tidak menyebutkannya
dalam metodologi penelitian ini.
F. Sistematika
Pembahasan
Analisis:
Pada
bagian ini kiranya penulis telah mengacu pada buku panduan penulisan tesis yang
disyahkan oleh kampus UMM tersebut. Disamping itu mengenai sistematika
pembahasan dalam tesis ini bisa dilihat pada daftar isi tesis ini. Kami merasa
sudah relevan dengan sistematika penulisan karya ilmiah.
BAB II KEHIDUPAN DAN PEMIKIRAN
A. Biografi
Singkat
B. Latar
Belakang Sosial Pendidikan
1. Situasi
dan Kondisi Sosial
2. Kondisi
Pendidikan
3. Keagamaan
C. Pemikiran
al-Ghazali
1. Ilmu
Kalam
2. Filsafat
3. Tasawuf
4. Pendidikan
5. Fiqh
A. Karya
Al-Ghazali
Analisis:
Pada bab ini, penulis telah memaparkan biografi Imam
Al-Ghazali dengan terperinci. Penulis sudah menyebutkan tentang identitas diri
Al-Ghazali, riwayat pendidikannya, sejarah sosialnya, aktivitas terkait bidang
yang dikaji yaitu tentang pemikiran Al-Ghazali mengenai pendidikan, serta
karya-karya yang telah ditulis oleh Al-Ghazali. Dari sini menunjukkan bahwa
karya tesis ini menunjukkan studi tentang tokoh.[5]
BAB III KONSEP PENDIDIKAN AL-GHAZALI
A. Pandangan
tentang Manusia
Pamdangan
al-Ghazali tentang manusia, jika dicermati melalui beberapa tulisannya,
sebenarnya tidak hendak mengubah pandangan para pendahulu, atau setidaknya
menciptakan inovasi baru para tokoh lainnya tentang manusia, akan tetapi mengembalikan
hakikat tentang realita manusia berdasarkan pada kodrat manusia sendiri.
Menurutnya pandangan lama terhadap manusia bersifat fatalis. Dahulu kala
kepercayaan manusia mengarah pada kekuasaan alam. Matahari ada karena sudah
kehendak alam. Kepercayaan semacam itu lalu menjadi spesifik dan berubah
menjadi agama-agama tertentu. Kekuasaan alam menjadi kekuasaan Tuhan.
B. Konsep
Dasar Pendidikan
1. Pengertian
Pendidikan
Ihya’ ulumuddin adalah
merupakan kumpulan/ intisari pemikiran al-ghazali yang paling komplit, berbagai
bidang ilmunya tertuang didalamnya meskipun tidak dituangkan secara utuh.
Sebagaimana pemikirannya dalam bidang pendidikan, disana belum dirumuskan
secara utuh mengenai pengertian pendidikan. Hal ini dapat dipahami karena
al-Ghazali belum sampai membahas ilmu pendidikan.
Adapun
unsur-unsur pembentuk pendidikan dari al-ghazali dapat dilihat dari pernyataan
berikut ini:
“sesungguhnya hasil ilmu itu ialah
mendekatkan diri kepada Allah, Tuhan semesta alam, menghubungkan diri dengan
ketinggian malaikat dan berhampiran dengan malaikat tinggi”.(al-Ghazali
juz : 1)
2. Landasan
Firman Allah (QS
Ar-Rum: 30,Yusuf: 76,As-Syura: 11,Yasin: 77, Al-Hijr: 28-29) dan sabda
Rasulullah merupakan landasan pendidikan bagi manusia karena esensi manusia
adalah merupakan kesatuan antara ruh dan jasad, dalam ruh tempat bersemayamnya aql,
nafs dan qalb sedangkan jasad adalah merupakan media dari esensinya,
keduanya mempunyai hubungsn yang khusus, akhirnya Al-Ghazali menjelaskan
tentang sifat-sifat dasar atau fitrah
manusia yang tidak dapat berubah.
Dari sini dapat
dinyatakan pula bahwa konsep pendidikan Al-Ghazali selalu aktual. Karena
Al-Ghazali berpijak pada pemikiran tentang manusia yang fitrahnya tidak
berubah. Sebaliknya, konsep pendidikan sekarang tampak tidak berangkat dari
manusia, tetapi dari ilmu dan alam sehingga kurang dapat ditentukan arahnya.
3. Prinsip
Umum
1. Pengertian
Menurut Dewey, pendidikan adalah
rekonstruksi dan reorganisasi pengalaman secara konstan.pengertian ini berbeda
dengan pengertian pendidikan menurut Al-Ghazali. Menurut, Al-Ghazali,
pendidikan adalah mempersiapkan individu atau pribadi agar bisa menghadapi
kehidupan ini secara sempurna, hidup bahagia,cinta tanah air, kuat jasmani,
sempurna akhlaknya, teratur dalam berpikir, berperasaan lembut, mahir di bidang
ilmu, saling membantu dengan sesamanya, memperindah ungkapan pena dan lisannya,
serta membaguskan amal perbuatannya.
Dari
sudut pandang mengenai arti pendidikan dia atas, nampak Al-Ghazali
mengambilyang lebih praktis dari pada Dewey yang bersifat eksperimentalis dan
filosofis.
2. Landasan
Pemikiran tentang teori pendidikan yang
berkembang di Barat, umumnya dan bagi Dewey
khususnya memiliki landasan yang
berantesenden pada pemikiran filosofis yang berkembang pada masa Yunani kuno dan eropa abad pertengahan.
Sebaliknya, pemikiran tentang teori pendidikan yang dikembangkan di dunia Islam
umumnya, dan bagi Al-Ghazali khusunya, memiliki landasan yang berantesenden
pada pemikiran reflektrif dari Al-Quran dan Hadis dengan dasar iman
3. Prinsip
umum
Lebih lanjut Al-Ghazali menyatakan bahwa
untuk sammpai pada pendidikan yang sejati, harus bisa memanfaatkan pembawaan
anak atau karunia Allah yang diberikan kepadanya.perlu memperhatikan pendidikan
jasmani, akal, akhlak, sosial, kesadaran, sikap, mendayagunakan aktifitasnya
dan seringkali membiasakan adat yang baik
C. Sistem
Pendidikan
1. Pengertian
a. Sistem
dapat dikatakan sebagi perangkat elemen yang berkaitan dan berfungsi searah
tujuan yang dicanangkan.
b. Pendidikan
Islam adalah bimbingan jasmani dan ruhani berdasarkan hukum-hukum agama Islam
menuju terbentuknya kepribadian yang utama menurut ukuran Islam (Ahmad D
Marimba,1987, hlm 23).
c. Berdasarkan
uraian di atas, dapat ditegaskan bahwa yang dimaksud pendekatan semantik dalam
pendidikan Islam ialah usaha mengkaitkan dan memfungsikan elemen-elemen yang
ada dalam proses pendidikan Islam untuk mencapai tujuan yang dicanangkan.
2. Sumber-sumber
pendidikan Islam
Sumber otentik bagi sistem pendidikan
hidup Islam ialah Al-Quran dan sunnah Rasul. Pendidikan Islam haruslah bersumber
dari keduanya.hal ini sesuai dengan hadis”telah aku tinggalkan padamu dua
hal, engkau tidak akan tersesat sesudah keduanya, ialah kitab Allah dan
Sunnahku. (HR Malik)
3. Dasar-
dasar pendidikan Islam
Ada beberapa nilai fundamental dalam
sumber pokok ajaran Islam yang harus dijadikan dasar bavgi pendidikan Islam
yaitu; akidah, akhlak, penghargaan akal, kemanusiaan, keseimbangan, dan rahmat
bagi seluruh alam.
Pendidikan mengarah kepada pembentukan insan
kamil, yakni khalifah Allah yang pada hakikatnya ialah manusia shalih,
manusia yang mampu memanfaatkan potensi diri yang semaksimal mungkin
untukmemakmurkan bumi, berilmu pengetahuan memadai, amal yang baik, bermanfaat
bagi diri sendiri dan masyarakatnya, sanggup mengibarkan bendera keadilan,
waspada dalam menghadapi arus kedhaliman, kreatif dan tampil bekerja.
D. Orientasi
dan Wawasan
1. Problem
Pendidikan Dewasa Ini
Keberhasilan dan
kegagalan suatu proses pendidikan secara umum dapat dilihat dari out-putnya,
yakni orang-orang sebagai produk pendidikan. Bila pendidikan menghasilkan
oang-orang yang dapat bertanggungjawab atas tugas-tugas ketuhanan, bertindak
lebih bermanfaat baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain, pendidikan
tersebut dapat dikatakan berhasil. Sebaliknya, bila outputnya adalah
orang-orang yang tidak mampu melaksanakan tugas hidupnya, pendidikan tersebut
mengalami kegagalan.
Singkatnya
kegagalan pendidikan menyebabkan manusia tidak lagi berkedudukan sebagai
manusia yang sebenarnya yang menyandang gelar paling mulia, bahkan turun
menjadi makhluk yang paling rendah, lebih rendah dibanding binatang.
Kalau dianalisis
kegagalan pendidikan karena prosesnya masih menghadapi beberapa masalah sebagai
berikut:
Perbedaan
penekanan antara pengertian pendidikan yang menekankan aspek akhlak dan budi,
dan pengertian pengajaran yang menekankan konsumsi otak. Proses pendidikan
sekarang lebih cenderung kepada istilah kedua yang lebih mengutamakan aspek
kognitif dan psikomotorik dan kurang dalam aspek afektif.
Tujuan utama
murid dalam belajar ialah memperoleh ijazah dan selanjutnya melamar pekerjaan.
Inilah penyakit yang melanda dunia pendidikan yang mendapat perhatian besar
dari pemerintah sekarang.
Pendidikan agama
hanya berkisar dalam ilmu kalam dan fiqih dalam arti sempit. Maksudnya kurang
adanya penekanan dalam tafaqquh al-din (penerapan agamanya).
Kurikulum
pendidikan yang belum terarah dan terpadu. Setiap bidang studi tidak disusun
dengan mengaitkan antara bidang studi yang satu dengan bidang studi yang lain,
lebih-lebih ilmu kauniyah dan ilmu-ilmu ilahiyah.
Bagaimanapun
juga pendidikan perlu diperbaiki tidak hanya subyek didiknya, metode
pengajarannya, kurikulumnya dan segi-segi lain yang mendukung tercapainya
maksud dan tujuan pendidikan. Akan tetapi juga menyangkut intisari pendidikan
itu sendiri.
2. Relevansi
Pemikiran Pendidikan al-Ghazali dengan Pendidikan Dewasa Ini
Memang sistem
sekuler di Barat telah mampu menjawab tantangan-tantangan yang bersifat
pemenuhan kebutuhan manusia di bidang materi, didahului dengan pengembangan
pengetahuan untuk mencapai keunggulan sains dan teknologi. Akan tetapi dibalik
itun sebenarnya telah membawa krisis kepribadian, kehancuran nilai-nilai
manusia.
Dalam sistem
pendidikan Islam tidak dikenal pendidikan agama dan pendidikan umum tanpa
mengkaitkan keduanya. Tidak ada istilah ilmu akliyah tanpa mengikutsertakan
ilmu syariah, tidak mengembangkan kognitif kecuali afektif dan psikomotorik
sekaligus. Dengan empat potensi nafs, qalb, roh, dan aql yang ada pada diri
manusia sebagai argumentasi membuat pandangan tentang manusia yang berbeda,
lebih konkrit dan realistis.
Terhadap
tantangan–tantangan yang sedang dihadapi dunia pendidikan dewasa ini, ternyata
konsep pendidikan al-Ghazali mampu menjawabnya. Bukti konkrit dari jawaban itu
adalah ihya’, yang menjadi pokok kajian pembahasan di dalam buku ini
misalnya, yang kemudian diringkas dalam risalahnya Kimia Sa’adah, yang
terdiri atas beberapa bahasan: (1). Pengetahuan tentang diri, (2) pengetahuan
tentang Tuhan, (3) pengetahuan tentang dunia kita, (4) pengetahuan tentang
akhirat, (5) musik dan tarian sebagai pembantu kehidupan keagamaan, (6)
pemeriksaan diri dan dzikir kepada Allah, (7) perkawinan sebagai pendorong atau
penghalang dalam kehidupan beragama dan (8) cinta kepada Allah.
Tampilnya
pemikiran al-Ghazali tentang pendidikan dewasa ini adalah karena aktualitas
konsepnya, kejelasan orientasi sistemnya, dan secara umum karena pemikirannya
yang sesuai dengan konteks sosio kultural.
E. Tujuan
Pendidikan
Menurut al-Ghazali, pendidikan dalam
prosesnya haruslah mengarah kepada pendekatan diri pada Allah dan kesempurnaan
insani, mengarahkan manusia untuk mencapai tujuan hidupnya yaitu kebahagiaan
dunia dan akhirat.
Al-Ghazali berkata;
“hasil dari ilmu sesungguhnya ialah
mendekatkan diri kepada Allah, Tuhan semesta alam, dan menghubungkan diri
dengan para malaikat yang tinggi dan bergaul dengan alam arwah, itu semua
adalah kebesaran, pengaruh, pemerintahan
bagi raja-rajanya dan penghormatan secara naluri.” (al-Ghazali, Juz
II, hlm. 217)
Al-Ghazali membagi tujuan pendidikan
menjadi dua yaitu tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek.
1. Tujuan
Jangka Panjang menurut al-Ghazali ialah pendekatan diri kepada Allah
2. Tujuan
Jangka Pendek menurut al-Ghazali ialah profesi manusia sesuai dengan bakat dan
kemampuannya
Dapat dirumuskan bahwa tujuan pendidikan
menurut al-Ghazali adalah sebagi berikut:
1. Mendekatkan
diri kepada Allah
2. Menggali
dan mengembangkan potensi atau fitrah manusia
3. Mewujudkan
profesionalisasi manusia untuk mengemban tugas keduniaan dengan sebaik-baiknya.
4. Membentuk
manusia yang berakhlakul karimah
5. Mengembangkan
sifat-sifat manusia yang utama sehingga menjadi manusia yang manusiawi.
F. Metodologi
Pendidikan
Dari
uraian mengenai kurikulum pendidikan menurut al-Ghazali dapat dipahami bahwa
al-Ghazali telah meletakkan dasar-dasar penyusunan kurikulum yang harus
disampaikan kepada dan diterima oleh murid secara bertahap sesuai dengan
perkembangan anak untuk mencapai derajat yang tinggi, baik di dunia dan di
akhirat. Pentahapan itu kemudian melahirkan metodik khusus pendidikan menurut
al-Ghazali, dan tampak bahwa ia menekankan kepada pendidikan agama dan akhlak.
1. Metodik
Khusus Pendidikan Agama
Metodik
pendidikan agama menurut al-Ghazali, pada prinsipnya dimulai dengan hafalan dan
pemahaman, kemudian dilanjutkan dengan keyakinan dan pembenaran, setelah itu
penegakan dalil-dali dan keterangan yang menunjang penguatan akidah. Yang
demikian merupakan pantulan dari sikap hidupnya yang sufi dan tekun beribadah.
Pendidikan agama
pada kenyataannya lebih sulit dibanding dengan pendidikan lainnya, pendidikan
agama menyangkut masalah-masalah perasaan dan lebih menitikberatkan pada
pembentukan kepribadian murid. Oleh karena itu para guru bidang agama dituntut
berusaha sedemikian rupa sehingga dapat membawa murid ke arah tercapainya
tujuan pendidikan.
H.M Arifin
menyatakan bahwa para guru adalah pemegang posisi kursi yang menentukan
keberhasilan proses pendidikan (Arifin, 1991, hlm. 12)
Sebagaimana
dikatakan Zakiyah Darajat, bahwa pendidikan agama dalam arti pembinaan
kepribadian sebenarnya telah dimulai sejak anak lahir, bahkan sejak dalam
kandungan (Zakiyah Darajat, hlm. 109). Karena itu usaha al-ghazali untuk
menerapkan konsep pendidikannya dalam bidang agama dengan menanamkan akidah
sedini mungkin dinilai tepat.
2. Metodik
Khusus Pendidikan Akhlak
Al Ghazali mendefiniskan
akhlak sebagai berikut:
“Akhlak adalah
suatu sikap yang mengakar dalam jiwa yang darinya lahir berbagai perbuatan
dengan mudah dan gampang, tanpa perlu pemikiran dan pertimbangan. Jika sikap
itu darinya lahir perbuatan yang baik dan terpuji, baik dari segi akal meupun
syara’, maka ia disebut akhlak yang baik. Dan jika lahir darinya perbuatan
tercela, maka sikap tersebut disebut akhlak buruk”. (al-Ghazali,
Juz III, hlm. 109).
Berangkat dari
pengertian pendidikan dan akhlak yang telah disebutkan, maka pendidikan apapun,
menurut al-Ghazali, harus mengarah kepada pembentukan akhlak mulia. Kalau kita
mengenal adanya dua jalur dalam pelaksanaan pendidikan, yaitu jalur sekolah
yang meliputi, pendidikan umum, pendidikan kejuruan, pendidikan luar biasa,
pendidikan kedinasan, pendidikan keagamaan, pendidikan akademik dan pendidikan
profesional, dan jalur luar sekolah yang meliputi, keluarga kelompok belajar,
kursus dan dan satuan pendidikan sejenisnya. Kesemua itu pada akhirnya harus
dapat mewujudkan manusia yang berakhlak mulia.
Uraian
al-Ghazali tentang metodik praktis dan metodik khusus membentuk akhlak mulia
menunjukkan bahwa untuk mengadakan perubahan akhlak tercela anak adalah dengan
menyuruh melakukan perbuatan yang sebaliknya. Nampak ada 4 bentuk pendidikan
al-Ghazali, yakni pendidikan akal, agama, akhlak, dan jasmani, dengan penekanan
pada pendidikan agama dan akhlak sehingga dapat mencapai tujuan hidup yaitu
insan kami. Seperti dikatakan Imam Barnadib, bahwa fokus pendidikan adalah
manusia, baik dalam kedudukannya sebagai anak, remaja, atau dewasa (Imam
Barnadib, 1988, hlm. 66)
G. Evaluasi
Pendidikan Menurut al-Ghazali
Dalam membahas
mengenai evaluasi pendidikan, al-Ghazali menggunakan kata muhasabah yang
asal katanya berarti menghitung, memperkirakan. Al-Ghazali menggunakan kata
tersebut untuk menjelaskan tentang evaluasi diri setelah m,elakukan aktivitas.
Adapun tujuan
pendidikan yang diusung oleh al-Ghazali mengacu pada hadis Nabi yang juga
dikutip al-Ghazali dalam bukunya, yaitu:
“jika kau telah merencanakan
suatu pekerjaan atau suatu program kerja, maka pikirkanlah akibat atau hasil
akhirnya. Jika kemungkinan benar (menguntungkan) maka teruskan, tetapi jika
kemungkinan sesat (merugikan) maka hentikan rencana itu.”
Kutipan
al-Ghazali tersebut menunjukkan tujuan evaluasi secara umum, sedangkan tujuan
evaluasi pendidikan ialah mengontrol efektifitas dan efisiensi usaha dan
sarana; mengetahui segi-segi yang mendukung dan menghambat jalannya proses
pendidikan menuju tujuan. Adapun tujuan khususnya adalah berkaitan erat dengan
masing-masing subjek dan kreatifitas atau objeknya.
Waktu yang
disarankan al-Ghazali untuk mengevaluasi sesuatu adalah seperempat dari satuan
waktu atau satu periode. Hal ini sesuai dengan kutipan dalam bukunya:
“seyogyanya bagi
orang yang berakal mempunyai empat bagian waktu, dan satu bagian waktu darinya
digunakan untuk mengevaluasi dirinya.” Evaluasi
dilaksanakan baik diawal maupun di akhir, pretest ataupun posttest.
Analisis:
Bagian
ini merupakan bagian terpenting dalam seluruh isi laporan, tetapi juga
merupakan bagian yang paling sulit dikerjakan. Karena peneliti harus memaparkan
temuan penelitiannya yang kemudian berusaha untuk menafsirkannya.
Pada
bab ini peneliti telah memaparkan temuan-temuan penelitiannya yang digali dari
data primer yaitu kitab Ihya’ Ulumuddin, sekaligus dari beberapa data
sekunder yang terkait dengan topik penelitian. Kejelian dan ketajaman daya
pikir peneliti dalam membahas temuan penelitian sangat penting.
Akan
tetapi, suatu hal yang menurut penganalisis agak sedikit ganjil adalah tidak
adanya bab pembahasan, yang seharusnya memaparkan hasil analisis peneliti
terhadap temuan penelitian. Namun kiranya, hasil analisis penulis tersebut
telah dipaparkan dalam bab ini. Sehingga menyebabkan tidak dicantumkannya bab
Pembahasan tersendiri, dan hasil analisis peneliti telah include dalam
bab ini.
Meski
hal ini sedikit tidak menimbulkan masalah terkait dengan substansinya, namun
agak rancu jika kita melihat penelitian ini secara global.
Isi
dari beberapa bab dalam penelitian ini terkesan memaksakan. Misalnya, dalam
sub-bab orientasi dan wawasan, di sana peneliti menjelaskan panjang lebar
tetapi tidak diintegrasikan ke dalam pemikiran al-Ghazali.
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan pada hasil penelitian serta
analisis pemikiran pendidikan al-Ghazali sebagaimana telah terurai diatas dapat
diambil kesimpulannya sebagai berikut: latar belakang kehidupan dan proses
perkembangan pendidikan telah membentuk al-Ghazali tumbuh menjadi seorang ulama
tulen, pemikir yang kritis yang tetap secara konsekuen berazazkan ajaran agama
Islam.
1. Al-Ghazali
adalah seorang teolog (ahli kalam), filosuf, pemikir ulung Islam yang
menyandang gelar gelar pembela Islam (hujjatul
Islam), hiasan agama (zainuddin), dan samudera yang menghanyutkan (bahrun
Mughriq) serta seorang sufi. Pembahasan al-ghazali tentang manusia ada
beberapa segi yang dapat dilihat sebagian dari pandangan logika sedang yang
lainyya berdasar pada ajaran agama khususnya aliran tasawuf.
2. Dalam
sistem pendidikan Islam tidak dikenal pendidikan agama dan pendidikan umum
tanpa mengkaitkan keduanya. Tidak ada istilah ilmu akliyah tanpa
mengikutsertakan ilmu syariah, tidak mengembangkan kognitif kecuali afektif dan
psikomotorik sekaligus. Oleh karena itu jika banyak disinyalir dan telah nyata
dihadapan kita akan terjadinya dualisme sistem pendidikan, sistem Islam dan
sistem sekuler akan merusak dan menghancurkan nilai-nilai manusia, dengan
hilangnya nilai akliyah bagi yang mengembangkan ilmu agama dan hilangnya nilai-nilai
khulukiyah bagi yang hanya mengembangkan ilmu-ilmu umum dalam sistem
pendidikannya, maka perlu adanya usaha perbaikan sistem tersebut secara
integral dan jangan sampai sistem yang baru merupakan jiplakan sistem barat
yang sekuler, sehingga perpaduan dua sistem ini haruslah merupakan kesempatan
yang tepat untuk menghilangkan keburukan masing-masing sistem. Disinilah konsep
dasar pendidikan al-Ghazali mampu menjawabnya.
3. Adapun
pokok-pokok al-Ghazali tentang pendidikan adalah sebagai berikut:
a. bahwa
ilmu dituntut disamping untuk ilmu itu sendiri, juga sebagai proses untuk
mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
b. Tujuan
pendidikan adalah mencetak insan-insan yang sanggup melaksanakan tugas
kekhalifahannya, sebagai amanah Allah SWT., yakni beribadah kepada Allah.,
dalam makna yang seluas-luasnya. Karena insan yang seperti inilah yang dapat
menikmati kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.
c. Untuk
mencapai tujuan kebahagiaan dunia dan akhirat al-Ghazali mensyaratkan adanya
pendidikan yang utuh, yakni perpaduan antara unsur jasmani dan rohani, antara
ilmu dan amal.
Analisis:
Penyimpulan
atau pembuatan kesimpulan tidak boleh lepas dari rumusan masalah atau
pertanyaan-pertanyaan yang dirumuskan dalam bagian rumusan masalah. Pada
umumnya, banyaknya jumlah pertanyaan dalam rumusan masalah juga menentukan
banyaknya jumlah rumusan kesimpulan yang harus disajikan.[6]
Pada
penelitian ini kesimpulan sudah menjawab rumusan masalah yang ada. Ditunjukkan
juga dengan jumlah kesimpulan yang sama dengan rumusan masalah. Simpulan telah disajikan
secara berurutan. Sehingga mengindikasikan bahwa simpulan nomor satu berarti
menjawab rumusan masalah nomor satu, demikian seterusnya.
B. Saran-saran
1. Sekalipun
Ihya Ulumuddin dianggap sebagai kitab intisari pemikiran al-Ghazali yang
paling komplit, namun belum banyak yang tergali secara sempurna, oleh karena
itu hendaknya perlu penggalian dan rumusan yang lebih komprehensif, sehingga
pemikiran-pemikiran al-Ghazali tentang pendidikan akan terkuak lebih sempurna
2. Kepada
para pakar dan cendekiawan muslim, khususnya para peneliti, hendaknya
mengadakan penelitian lebih lanjut tentang kitab-kitab yang ditulis oleh
al-Ghazali kemudian direlenvansikan dengan konteks pendidikan dalam era
globalisasi ini.
Analisis:
Saran
yang diberikan harus benar-benar berkaitan dengan hasil-hasil penelitian dan
didukung oleh data penelitian yang diperoleh. Saran yang diberikan juga harus
jelas ditujukan kepada siapa. Umumnya saran dapat diberikan untuk tujuan (1)
pengembangan teori (bersifat teoritis), (2) bahan pertimbangan untuk
pengambilan keputusan (bersifat praktis), (3) calon penelitian berikutnya.[7]
Menurut
penganalisis, sebaiknya peneliti memberikan saran-sarannya dengan format
seperti di atas (saran teoritis, praktis dan penelitian selanjutnya), sebab
akan lebih memudahkan mengidentifikasi jika ada gagasan atau ide-ide penelitian
baru. Terlepas dari hal itu, peneliti telah memberikan saran-saran yang cukup
berharga untuk penelitian selanjutnya yang bisa melengkapi penelitian yang teah
dilakukannya.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Pedoman Penulisan Tesis dan Disertasi.
PPs UIN Maliki Malang, 2009.
Moleong, Lexy J. Metodologi
Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2006
Rahardjo,
Mudjia. Sekilas Tentang Studi Tokoh Dalam Penelitian,
Artikel. dalam http://www.mudjiarahardjo.com/materi-kuliah/218-sekilas-tentang-studi-tokoh-dalam-penelitian-.html
diakses pada 16 Juni 2011
Ruseffendi, Dasar-Dasar Penelitian
Pendidikan dan Bidang Eksakta Lainnya, Bandung: Tarsito. 2005
Wahidmurni, Cara Mudah Menulis Proposal dan
Laporan Penelitian Lapangan, Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif (Skripsi,
Tesis, dan Disertasi). Malang: UM Press. 2008
Wahidmurni, dkk, Pedoman Penulisan
Tesis dan Disertasi. Malang: Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri
Maulana Malik Ibrahim Malang, 2009
[1] Wahidmurni, 2008, Cara
Mudah Menulis Proposal dan Laporan Penelitian Lapangan, Pendekatan Kualitatif
dan Kuantitatif (Skripsi, Tesis, dan Disertasi), (Malang: UM Press), Cet.
1, hlm. 105.
[2] Wahidmurni, dkk, Pedoman
Penulisan Tesis dan DIsertasi, (Malang: Program Pascasarjana Universitas
Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, 2009), hlm. 11
[3] Lexy J. Moleong, Metodologi
Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 98
[4] Ruseffendi, Dasar-Dasar
Penelitian Pendidikan dan Bidang Eksakta Lainnya, (Bandung: Tarsito, 2005),
hlm. 18
[5] Lihat
artikel yang ditulis oleh Mudjia Rahardjo berjudul Sekilas Tentang Studi
Tokoh Dalam Penelitian dalam http://www.mudjiarahardjo.com/materi-kuliah/218-sekilas-tentang-studi-tokoh-dalam-penelitian-.html
diakses pada 16 Juni 2011
[6] Anonim. Pedoman
Penulisan Tesis dan Disertasi. PPs UIN Maliki Malang, 2009. Hlm.17
[7] Ibid., hlm. 18
Tidak ada komentar:
Posting Komentar